Kebudayaan Hindu, Budha dan Islam



 
BAB 2
Kebudayaan Hindu, Budha dan Islam
            Sejarah kebudayaan Indonesia, berdasarkan pengaruh yang datang ke negara kita dapat dibedakan atas:
  1. Zaman prasejarah: zaman dimana manusia belum mengenal tulisan sejak manusia mengenal tulisan yang sejak penduduk Indonesia mulai ada sampai datangnya pengaruh agama Hindu dan Budha dari India sekitar Abad ke-5 Masehi;
  2. Zaman kuno: zaman dimana manusia sudah mengenal tulisan yaitu sejak mendapatkan pengaruh hindu dan budha sampai jatuhnya kerajaan Majapahit yaitu sekitar awal abad ke – 19;
  3. Zaman madya yaitu diawali dari datangnya pengaruh Islam abad ke-19;
  4. Zaman baru yaitu sejak datangnya pengaruh Eropa sekitar abad ke-20 atau tahun 1900-an.
  1. Kebudayaan Pra-sejarah
Indonesia pada saat itu belum mengenal tulisan, maka pengetahuan tentang kebudayaan diperoleh dari penafsiran benda-benda peninggalan yang berhasil ditemukan oleh para ahli Arkeolog. Arkeologi adalah cabang dari ilmu Antropologi yang khusus mempelajari hasil–hasil kebendaan dari kebudayaan manusia yang sudah silam. Dari penafsiran itulah dapat diketahui kehidupan sosial ekonominya. Berdasarkan benda peninggalan, zaman pra – sejarah dibagi menjadi:
  1. Zaman Batu: terdiri dari
-          Zaman batu tua Palaeliticum: peralatan lebih banyak dari batu yang masih kasar;
-      Zaman batu tengah atau Mesolithicum: peralatan batu sudah mulai dihaluskan dan sudah mengenal tempat tinggal secara menetap;
-          Zaman batu muda atau Neolithicum: peralatan batunya sudah halus, diberi batang, dan sudah mengenal alat tembikar ( peralatan yang terbuat dari tanah liat yang dibakar)
  1. Zaman logam terdiri dari zaman tembaga, perunggu (campuran tembaga dan timah), dan zaman besi.
Kehidupan zaman pra-sejarah palingtua adalah sebagai pemburu dan peramu. Benda–benda yang mereka miliki terbuat dari tulang, tanduk binatang, kayu dan batu–batu genggam (sebagai kapak) yang masih kasar. Bergerak tidak jauh dari air. Untuk tempat berlindung umumnya mempergunakan pohon dan goa–goa yang datarannya lebih tinggi.
Unsur kebudayaan lain pada masa paleolithicum belum banyak terungkap, hal ini selain mereka belum mengenal tulisan, peralatan yang dipergunakanpun masih sederhana dengan menggunakan kayu dan batu sehingga mudah hancur.
            Pada masa Mesolithicum tempat tinggal sudah menetap. Hal ini berdasarkan temuan di Sumatra yaitu Medan dan Aceh, yang berupa sampah-sampah rumah tangga berupa tumpukan kulit kerang, anak panah dan mata tombak yang bentuknya khusus untuk menangkap ikan, batu yang sudah diasah halus, dan batu penggiling dengan alasnya. Selain itu juga ditemukan kampak yang dihiasi garis sejajar dan semacam mata, diduga alat ini sebagai alat upacara keagamaan, dan didefinisikan pula bahwa mereka sudah mengenal kesenian.
Penemuan C.H.M Heeren Palm, tahun 1950, di gua lereng Sulawesi selatan, menemukan cap – cap jari yang berwarna merah, gambar babi rusa yang sedang melompat dengan anak panah di jantungnya. Menggambarkan mereka sudah mengenal kesenian dan kepercayaan pada binatang tertentu (totemisme).
            Masa Neolithicum dikenal sebagai revolusi kebudayaan manusia, karena pada masa itu terjadi perubahan dari pengumpul (food gathering) ke produksi makanan (food producing) melalui pertanian. Perubahan teknologi ini membawa perubahan besar bagi peralatan yang digunakan untuk pertanian , dari hasil temuan terdapat kapak belincong dari batu api dengan berbagai bentuk dan ukuran.
            Bangunan tempat tinggal menjadi permanen dan kokoh, jumlah penduduk menjadi lebih banyak, dengan bercocok tanam yang menimbulkan stratifikasi sosial menurut kekayaan. Terdapat kerajinan–kerajinan tangan seperti anyaman, tenunan, grabah yang semakin berkembang. Barang–barang kesenian lainnya yaitu batu langka yang diasah indah diduga sebagai alat untuk barter dan bagian dari kepercayaan terhadap benda–benda (dinamisme). Perhiasan wanita seperti gelang dan kalung yang terbuat dari batu obsidian  dan juga kerang. Perdagangan antar wilayah pun sudah mulai dikenal.
            Bentuk kebudayaan pra-sejarah lainnya adalah kebudayaan megalitik yaitu bangunan yang terbuat dari batu-batu besar yang dibuat untuk menumbuk padi, menhir, jalanan batu, tembok batu, dolmen, keranda, bangunan pemujaan yang bentuknya bertangga–tangga dan patung–patung. Dari kebudayaan ini dapat ditafsirkan kepercayaan terhadap animisme, dinamisme mempunyai peran penting pada kehidupan masyarakat di waktu itu.
  1. Karakteristik Kebudayaan Hindu
            Datangnya Hindu dan Budha dikenal sebagai zaman sejarah yaitu dibuktikan bahwa terdapat peninggalan berupa tulisan yang ditemukan di kalimantan timur dan di bogor yang ditulis dengan huruf palawa bahasa Sangsekerta yang berasal dari India Selatan. Berarti pada saat itu pengaruh Hindu dan Budha masuk ke Indonesia pada abad ke-5 SM. Tulisan ini selain sebagai bukti kepercayaan baru juga sebagai bukti bahwa pada waktu itu terdapat struktur masyarakat yang berbeda. Seperti masyarakat Hindu yang berlapis-lapis menurut kasta yaitu:
  1. Kasta brahmana
  2. kasta kesatria
  3. kasta vaisya
  4. kasta sudra
Tanggapan tentang pengaruh datangnya pengaruh india ke indonesia
            menurut I. Van Luer datangnya pengaruh bangsa india melalui perdagaangan. Barang barang yang dierdanggangkan adalah barang – barang yang bernilai tinggi seperti logam mulia, perhiasan, kain, wangi – wangian dan obat. Sedangkan dari indonesia adalah berbagai jenis kay dan rempah – rempah. Yang diperjualbelikan oleh kaum bangsawan yang status ekonominya tinggi.
            Alaupun pengaruh kebudayaan india cukup intensif mempengaruhi bangsa indonesia pada saat itu, namun bangsa indonesia tidak langsung menerima begitu saja apa yang telah datang datang. Kebudayaan baru hanya sebagai pelengkap saja, karena dalam diri bangsa indonesia itu sendiri sudah mengenal berbagai peralatan, kepercayaan, perdagangan, kerajian atau kesenian, ilmu kelautan dan cara – cara bercocok tanam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa indonesia dalam mengambil unsur kebudayaan dari luar bersifat selektif aktif, sehingga menghasilkan kebudayaan yang khas indonesia.
            Agama Hindu pada dasarnya adalah kepercayaan kepada dewa seperti Dewa Agni (api), Dewa Wahyu (angin), Dewa Candra (bulan), Dewa Indra (perang), Dewa Brahma (pencipta), Dewa Wisnu (pemelihara) dan Dewa Siwa (perusak).
Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa dianggap dewa tertinggi disebut trimurti.
            Raja seringkali dianggap sebagai penitisan dewa, sehingga sering pula dibuat patungnya. Bangunan batu tempat penyimpanan patung dan di jadikan untuk tempat pemujaan disebut candi. Candi berfungsi juga sebagai tempat penyimpanan barang - barang milik raja. Orang menurut agama hindu setelah meninggal jazadnya kemudian dibakar dan rohnya kembali ke dewa penitisnya. Kitab agama Hindu adalah Weda.
            Perasasti yang bercorak Hindu terdapat di kalimantan timur, bogor dan candi – candi di jawa tengah bagian utara.
  1. Karakteristik Agama Budha 
            Karakteristik agama budha adalah dhjarma yaitu sejumlah atauran atau kewajiban yang harus dilakukan oleh pengikutnya aebagai bagian dari alam semesta. Atauran tujuan itu adalah agar manusia memperoleh makna kehidupan yag sebenarnya, dapat melepaskan diri dari kekangan karma dan akhirnya mencapai kesempurnaan hidup yaitu di nirwana. Menurut agama Budha, kehidupan ini adalah akibat dari kehidupan di masa lalu, dan kehidupan yang akan datang di tentukan oleh kehidupan masa kini.
            Kehidupan dan proses penitisan itu pada dasarnya adalah penderitaan, hukuman atau karma.
            Kitab suci agama Budha adalah tripitaka, dan dalam agama buda tidak mengenal kasta. Menurut kepercayaan Budha, alam semesta dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Kamadhatu: manusia yang bernafsu jelek.
  2. Rupadhatu: manusia memerangi nafsu yang jelek.
  3. Arupadhatu: manusia sempurna yang terlepas dari urusan duniawi.
            Tokoh ajaran buda adalah Sidharta Gautama atau Sang Budha Gautama. Kesederhanaan Sang Buda adalah ciri utamanya yang diikiti oleh para bhiksu (laki-laki) dan bhiksuini (perempuan) di vihara. Pakaian yang dimiliki hanya boleh 3 buah, sebuah mangkok untuk makan, jarum untuk menjahit baju dan pisau untuk mencukur rambut. Mereka hidup hanya mengandalkan derma dari pengikut budha lainnya di masyarakat. Kekayaan yang mereka miliki digambarkan sebagai setupa, sebagai dari gambaran dari timpukan baju, mangkuk yang ditelungkupkan dan tongkat/ jarum di atanya.
            Candi – candi dan setupa – setupa diatasanya menjadi simbol tempat peribadatan agama budha. Patung yang ada dalam candi bercorak budha hanya patung Sidharta Gautama dengan segala kesederhanaannya. Candi yang bercorak budha umumnya terdapat di jawa tengah bagian selatan daerah Kerajaan Majapahit pada zaman dinasti Sailendra.
  1. Karakteristrik Agama Islam
            Hampir semua para ahli sepaham, bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia melalui perdagangan atau oleh pedagang.dalam agama Islam tidak mengenal adanya kasta atau perbedaan status. Pemimpin setiap orang adalah khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memiliki kedudukan sama di sisi tuhan. Si perkirakan para pedagang muslim datang ke indonesia pada abad ke-7 dan abad ke-13 masyarakat muslim sudah terbentuk.
Pengaruh islam berasal dari india, hal ini dibuktikan dengan adanya unsur – unsur yang sama antar islam di india dan di indonesia. Selain itu hubungan indonesia dengan arab baru terjalin pada abad ke-17.
            Tokoh penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dikenal dengan Walisongo atau sembilan wali. Mereka sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat dan bergelar sunan. Kesembilan sunan tersebut adalah:
  1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
  2. Raden Rakhmat (Sunan Ampel)
  3. Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
  4. Masih Munat (Sunan Drajat)
  5. Raden Paku (Sunan Giri)
  6. Jaka Said (Sunan Kalijaga)
  7.  Sunan Kudus (Sunan Muria)
  8. Sunan Gunungjati
  9. Syekh Siti Jenar
Agama Islam adalah agama yang bersifat monotheisme yaitu mengakui hanya ada satu Tuhan dan Nabi Muhammad adalah orang yang menerima ajaran Islam dan penyebar Islam pertama. Dalam agama islam tidak mengenal dosa bawaan. Dalam aga islam tidak boleh menggambarkan atau memvisualkan tuhan dan nabi dalam bentuk apapun.
Pedoman umat Islam dalam beribadah dan perilaku dalm masyarakat adalah Al Qur’an dan Haddist Nabi. Al Qur’an hanya memberikan garis besarnya saja dan penjelasan serta pelengkap diperoleh dari Haddist Nabi. Seseorang yang beragama Islam harus memenuhi kewajiban pokok yang disebut Rukun Islam yaitu:
  1. Membaca Shahadad.
  2. Sholat wajib 5 waktu.
  3. Puasa atau saum.
  4. Zakat.
  5. Naik haji (bila mampu).
Selain itu ada 6 dasar kepercayaan (keimanan) yang mutlak harus diterima oleh setiaporang muslim yaitu:
  1. Iman kepad Allah SWT
  2. Iman kepada malaikat-malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab-kitab Alah
  4. Iman Kepada Rosul Allah
  5. Iman kepada qadla dan Qodar
  6. Iman kepada Hari kiamat
Kebudayaan islam yang pali menonjol adalah masjid. Masjid adalah tempat solat dan tempat peribadatan lainnya seperti ceramah keagamaan, pengajian, dan pusat perayaan keagamaan islam. Kemudian peninggalan lainnya adalah makam, seni ukir, kesusastraan dan pahat kayu.
Hasil kebudayaan islam jelas menunjukkan proses akulturasi, tanpa menghilangkan kaidah – kaidah pokok keislamannya. Wiyoso Yudoseputro (1986) seorang sejarawan arsitektur Indonesia, mengumumkan bahwa;
“kekuasaan islam yang timbul di indonesia berusaha menyesuaikan diri dengan tradisi kebudayaan lama yang berasal dari Hindu selama tidak bertentangan dengan asas ajaran islam, demikian pula kekuasaan daerah yang menjadi kerajaan Majapahit kebudayaan yang bercorak Hindu Masih berpengaruh.
Toleransi islam terhadap tradisi setempat selalu diperhatikan. Sikap islam tidak mendesak kebudayaan Pra-islam untuk diganti dengan yang baru. Sebaliknya nkebudayaan lama justru dikembangkan sesuai dengan kebutuhan baru. Tidak sedikit karya-karya seni mengandung nilai budaya Hindu/Budha masih terpelihara, bahkan mencapai bentuk klasiknya pada zaman islam. Apabila zaman kekuasaan raja-raja islam dihasilkan kesenian yang tidak ada sangkut pautnya dengan islam, hal ini adalah karena kesinambungan dan toleransi kebudayaan islam”.

No comments:

Post a Comment