Kebakaran di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara dengan luasan hutan yang cukup besar, memiliki peran penting sebagai paru-paru dunia. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya akan flora dan faunanya baik di daratan maupun di perairan.






Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa dari sabang sampai merauke. Dari hasil pengamatan oleh para ilmuan di Indonesia tercatat menjadi rumah bagi 12% dari jumlah total spesies mamalia, 16% spesies reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung, dan 25% spesies ikan di dunia. Sebagian di antaranya hanya dapat ditemui di Indonesia.



 Berkurangnya hutan di Kalimantan akibat kebakaran dan aktifitas manusia.

Namun tidak dipungkiri lagi pertambahan jumlah penduduk, perluasan lahan pertanian dan perkebunan, serta maraknya penambangan liar, ditambah kebakaran hutan yang tiap tahun selalu bertambahy pada musim kemarau membuat hutan dan seisinya semakin terancam keberadaannya di Indonesia. Dari sekian banyak bencana yang mengancam flora dan fauna, kebakaran hutan adalah hal yang patut kita usahakan pencegahannya. 

Data historis jumlah peringatan titik api di Sumatra-Indonesia

Selama bulan Juni 2013, mayoritas kebakaran yang terjadi terpusat di Provinsi Riau, Pulau Sumatera, Indonesia. Angka yang cukup mengejutkan, yaitu sebanyak 87 persen dari peringatan titik api di sepanjang Sumatera pada 4-11 Maret 2014 berada di Provinsi Riau. Kenbakaran yang terjadi pada tahun 2014 ini lebih sering dibandingkan pada tahun 2013. 
 Kebakaran api, Provinsi Riau, Indonesia 1-12 Maret, 2014

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa provinsi di Indonesia antara lain di Provinsi Aceh dan Riau sudah menjadi agenda rutin dan merupakan isu penting, karena asap yang ditimbulkan menjadi masalah nasional maupun internasional. Kebakaran hutan ini diduga perbuatan dari masyarakat dan perusahaan dalam melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar sehingga menyebabkan terganggunya kesehatan pernafasan manusia dalam pajanan waktu tertentu berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sudah masuk dalam kategori berbahaya (ISPU > 500) dan berpotensi mengganggu trasportasi terutama laut dan udara. Kebakaran ini selain merugikan negara masyarakat di seluruh wilayah jangkauan asap juga merasa terganggu akibat asap kebakaran yang kaya akan karbon dioksida dan mengurangi jarak pandang.

Jumlah peringatan titik api untuk Sumatra Indonesia 1-Januari 2013 - 12 Maret 2014

Pemerintah indonesia dari awal terbentuknya pemerintahan sampai sekarang memang tidak pernah belajar untuk bagaimana bisa mengurangi kebakaran hutan di negaranya. Memang jika dilihat baru-baru ini bemerintah bersama negara asing berusaha mencegah terjadinya kebakaran hutan namun kendalanya masih tetap sama dari tahun ketahun yaitu sulitnya mendapatkan pasokan air karena musim kemarau. Data dibawah ini menunjukan tidak ada perlakuan khusus dari pemerintah dalam pencegahan bencana kebakaran di indonesia sumber data: sebelum 1997 dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) dan Canadian International Development Agency (CIDA) - Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI). Data 1997/1998 dari Asian Development Bank (ADB) . Data 1999-2005 berasal dari Departemen Kehutanan Indonesia.

    1982 dan 1983: 3,6 juta hektaree ( 36.000 km², 8,9 juta acres, 13.900 mile²).
    1987: 49.323 hektaree ( 492 km², 121.880 acres, 190 mile²).
    1991: 118.881 hektaree (1.189 km², 293.761 acres, 459 mile²).
    1994: 161.798 hektaree (1.618 km², 399.812 acres, 625 mile²).
    1997 dan 1998: 9,8 juta hektaree ( 97.550 km², 24,1 juta acres, 37.664 mile²). Sumber data dari ADB.
    1999: 44.090 hektaree (441 km², 108.989 acres, 170 mile² ).
    2000: 8.255 hektaree ( 83 km², 20.399 acres, 32 mile²).
    2001: 14.351 hektaree (144 km², 35.462 acres, 55 mile²).
    2002: 36.691 hektaree (367 km², 90.665 acres, 142 mile²).
    2003: 3.745 hektaree ( 37 km², 9.254 acres, 14 mile²).
    2004: 13.991 hektaree (140 km², 34.573 acres, 54 mile²).
    2005: 13.328 hektaree (133 km², 32.934 acres, 51 mile²).
Data tersebut menunjukan adanya jumlah yang tidak konsisten di tiap tahunnya. Mamang dari kurun waktu antara tahun 2000 - 2005 jumlah kebakaran hutan berkurang drastis dibandingkan tahun 1982 sampai 1999. Sedangkan di tahun 2013 dari hasil pengamatan satelit pendeteksi panas hutan terdapat lebih dari 15 ribu titik api yang tersebar di Riau, artinya terdapat puluhan ribu hektar daerah yang terbakar di sepanjang tahun tersebut. Yang paling meprihatinkan adalah adanya titik api yang ditemukan di areal hutan lindung, kawasan suakan dan di luar dua kawasan itu dengan total "hotspot" mencapai 13.957 titik. 



Dalam dalam kasus ini pemerintah harus lebih tegas lagi dalam penyelamatan hutan terutama menghukum berat oknum-oknum yang secara sengaja membuka lahan baru dengan cara membakar hutan lindung. Memang hukuman yang diberikan untuk perusahaan cukup besar yaitu denda 3 miliyar namun itu tidak sebandiing dengan kerusakan yang mengancam keberadaan flora dan fauna di Indonesia. Bayangkan jika saja hal ini terus terjadi selama beberapa puluh tahu kedepan, akan banyak kita jumpai hutan lindung yang berubah menjadi perkebunan dan para satwa akan terbunuh akibat memasuki wilayah perkebunan. Pemerintah harusnya sadar bahwa negara kita adalah negara tropis yang sepatutnya kita jaga hutan beserta isinya bukan malah mengikuti negara industri lain yang notabennya tanahnya beriklim tandus.

Bagaimanapun juga SBY sudah berusaha semaksimal mungkin dengan secara langsung memberi penyuluhan terhadap masyarakat yang berada di daerah rawan kebakaran dan memberikan fasilitas untuk melawan kebakaran serta bekerja sama dengan negara asing dalam aksi pencegahan kebakaran hutan. Kami berharap untuk pemimpin selanjutnya yaitu Jokowidodo dapat memberikan kontribusi yang baik bagi Paru-paru dunia serta mencegah praktek menyimpang yang dapat merusak kelestarian flora dan fauna Indonesia. Kami yankin perjuangan akan selalu ada di setiap harapan positif kita. Ketika yang jahat menguasai pasti yang baik akan melawannya tanpa henti. 

Sumber:
http://www.wri.org/blog/2014/03/kebakaran-hutan-di-indonesia-mencapai-tingkat-tertinggi-sejak-kondisi-darurat-kabut
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebakaran_liar
http://www.menlh.go.id/penanganan-kasus-dan-upaya-pengendalian-kebakaran-hutan-dan-lahan-krhutla-klh/
http://www.goriau.com/berita/peristiwa/catatan-akhir-tahun-ada-belasan-ribu-titik-kebakaran-hutan-di-riau.html#sthash.Dr3bTNGc.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenai Saya

Foto saya

Faisal Azmi Bakhtiar, S.Pd. Pernah belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Melanjutkan di Universitas Negeri Jakarta Program Pascasarjana Pendidikan Dasar. Diberi kesempatan memahami anak usia sekolah dasar selama satu tahun di SDN Dukuhtri 02 Bumiayu Brebes. Pada intinya memahami ilmu psikologi, kemampuan melakukan penelitian dan pengamatan terhadap permasalahan, serta trampil dan mengerti kemajuan teknologi sangat berpotensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.  

My Profile

Sosial Media:
IG : @faisalazmibakhtiar
FB : Faisal Azmi Bakhtiar
WA: 085727526464

Semoga artikel kami bermanfaat


Populer Terbaru