Penilaian Keterampilan Berbicara


Setiap kegiatan belajar perlu diadakan penilaian termasuk dalam pembelajaran kegiatan berbicara. Cara yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu berbicara adalah tes kemampuan berbicara. 

  




Pada prinsipnya ujian keterampilan berbicara memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara, bukan menulis, maka penilaian keterampilan berbicara lebih ditekankan pada praktik berbicara.Untuk mengetahui keberhasilan suatu kegiatan tertentu perlu ada penilaian. Penilaian yang dilakukan hendaknya ditujukan pada usaha perbaikan prestasi siswa sehingga menumbuhkan motivasi  pada pelajaran berikutnya. Penilaian kemampuan berbicara dalam pengajaran berbahasa berdasarkan pada dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi lafal, kosakata, dan struktur sedangkan faktor nonkebahasaan meliputi materi, kelancaran dan gaya[1].
Dalam mengevaluasi keterampilan berbicara seseorang pada prinsipnya harus memperhatikan lima faktor, yaitu: a) Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal atau konsonan) diucapkan dengan tepat?; b) Apakah pola-pola intonasi, naik dan turunnya suara serta rekaman suku kata memuaskan?; c) Apakah ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang pembicara tanpa referensi internall memahami bahasa yang digunakan?; d) Apakah kata-kata yang diucapkan itu dalam bentuk dan urutan yang tepat?; e) Sejauh  manakah “kewajaran” dan  “kelancaran” ataupun “kenative-speaker-an” yang tecermin bila sesorang berbicara?

Tes Kompetensi Berbicara
Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan bahasa setelah mendengarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi (bahasa) yang didengarnya itulah kemudian manusia belajar mengucapkan dan akhirnya mampu untuk berbicara. Untuk dapat berbicara dalam suatu bahasa secara baik, pembicara harus menguasai lafal, struktur, dan kosakata yang bersangkutan.[2] Di samping itu, diperlukan juga penguasaan masalah dan atau gagasan yang akan disampaikan, serta kemampuan memahai bahasa lawan bicara.
Dalam kegiatan berbicara diperlukan penguasaan terhadap lambang bunyi baik untuk keperluan menyampaikan maupun menerima gagasan. Lambang yang berupa tanda-tanda visual seperti yang dibutuhkan dalam kegiatan membaca dan menulis tidak diperlukan. Itulah sebabnya orang yang buta huruf pun dapat melakukan aktivitas berbicara secara baik, misalnya para penutur asli. Penutur yang demikian mungkin bahkan tidak menyadari kompetensi kebahasaannya, tidak “mengerti” sistem bahasanya sendiri. Kenyataan itu sekali lagi membuktikan bahwa peguasaan bahasa lisan lebih fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemampuan berbicara seharusnyalah mendapat perhatian yang cukup dalam pembelajaran bahasa dan tes kemampuan berbahasa.
Dalam situasi yang normal, orang melakukan kegiatan berbicara dengan motivasi ingin menemukan sesuatu kepada orang lain, atau karena ingin memberikan reaksi terhadap sesuatu yang didengarnya. Pembicaraan dalam situasi yang demikian, kejelasan penuturan tidak semata-mata ditentukan oleh ketepatan bahasa (verbal) yang dipergunakan saja, melainkan amanat dibantu oleh unsur-unsur paralinguistik seperti gerak-gerakan tertentu, ekspresi wajah, nada suara, dan sebagainya, suatu hal yang tidak ditemui dalam komunitas tertulis. Situasi pembicaraan (serius, santai, wajar, tertekan) dalam banyak hal juga akan memengaruhi keadaan dan kelancaran pembicaraan.
Hal lain yang mempengaruhi keadaan pembicaraan adalah masalah apa yang menjadi topik pembicaraan dan lawan bicara. Kedua hal tersebut merupakan hal yang esensial, dan karenanya harus diperhitungkan dalam tes kemampuan berbicara peserta didik  dalam suatu bahasa (Oller: 1979:305).[3] Atau paling tidak, tes berbicara hendaknya mampu mencerminkan situasi yang menghadirkan kedua faktor tersebut. Tes kemampuan berbicara yang memertimbangkan faktor-faktor tersebut, dan karenanya pembicaraan mendekati situasi yang normal, boleh dikatakan telah memenuhi  harapan tes pragmatik dan bermakna sebagaimana tuntutan tes otentik.
Di bawah ini akan dicontohkan berbagai bentuk tes kompetensi berbicara. Akan tetapi, tugas-tugas tes yang ditekankan pada tugas-tugas pragmatik atau otentik, sedang tugas-tugas yang bersifat disket atau mungkin integratif sengaja ditinggalkan. Tugas-tugas tes pragmatik atau otentik menghendaki peserta didik telah menguasai tahap elementer dalam suatu bahasa, atau paling tidak sudah dapat memergunakan bahasa itu untuk aktivitas berbicara.



Tugas Berbicara Otentik
Tugas berbicara otentik dimaksudkan sebagai tes berbicara yang memenuhi kriteria asessmen otentik. Hal ini perlu dikemukakan kembali karena pada kenyataan praktik pemberian tugas berbicara di sekolah belum tentu berkadar otentik. Misalnya, pembelajaran pelafalan (pronunciation) dalam bahasa target yang melatih ketepatan pelafalan peserta didik, pengucapan kata, tekanan kata, pola dan tekanan kalimat, dan lain-lain. Kegiatan tersebut penting dalam penguasaan bahasa target, dan bahkan menjadi prasyarat kompetensi berbahasa lisan, namun berkadar otentik. Tugas-tugas semacam itu dalam sudut pandang pendekatan komunikatif dikenal sebagai tugas prakomunikatif.
Dalam tugas berbicara otentik terdapat dua hal pokok yang tidak boleh dihilangkan, yaitu benar-benar tampil berbicara (kinerja bahasa) dan isi pembicaraan mencerminkan kebutuhan realitas kehidupan (bermakna).[4] Jadi, dalam assesmen otentik peserta didik tidak sekedar ditugasi untuk berbicara, berbicara dalam arti sekedar praktik memergunakan bahasa secara lisan, melainkan juga menyangkut isi pesan yag dijadikan bahan pembicaraan. Dalam kebutuhan sehari-hari, misalnya di kantor atau di dunia pekerjaan, orang terlibat pembicaraan pasti karena ada sesuatu yang perlu dibicarakan dan bukan berbicara sekedar praktik berbahasa. Hal inilah yang kemudian diangkat dalam asesmen otentik kompetensi berbahasa lisan: berbicara dalam konteks yang jelas. Konteks menunju pada berbagai faktor penentu: siapa yang berbicara, situasi pembicaraan, isi dan tujuan pembicaraan, dan lain-lain.
Tugas berbicara sebagai bentuk asesmen otentik harus berupa tugas-tugas yang ditemukan dan dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Jadi, tugas berbicara otentik mengambil model aktivitas bentuk-bentuk berbicara sehari-hari sehingga kompetensi yang dikuasai peserta didik bersifat aplikatif. Orang berbicara karena ingin menyampaikan sesuatu lewat bahasa, maka penggunaan bahasa yang benar adalah yang sesuai dengan konteks penggunaan. Jadi, pada intinya ketepatan bahasa dalam berbahasa lisan dilihat dari ketepatan bahasa yang dipakai dan kejelasan komunikasi yang dituturkan dalam konteks pembicaraan yang jelas. Untuk itu, tugas-tugas berbicara yang dipilih untuk mengukur kompetensi berbahasa lisan peserta didik haruslah yang memungkinkan peserta didik mengungkapkan keduanya: berunjuk kerja bahasa untuk menyampaikan informasi.

Bentuk Tugas Kompetensi Berbicara
Ada banyak bentuk tugas yang dapat diberikan kepada peserta didik untuk mengukur kompetensi berbicaranya dalam bahasa target. Apapun bentuk tugas yang dipilih haruslah yang memungkinkan peserta didik untuk tidak saja mengekspresikan kemampuan berbahasanya, melainan juga mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, atau menyampaikan informasi. Dengan demikian, tes tersebut bersifat fungsional, disamping dapat juga mengungkap kemampuan peserta didik berbicara dalam bahasa yang bersangkutan mendekati pemakaiannya secara normal. Selain itu, pemberian tugas hendaklah juga dilakukan dengan cara yang menarik menyenangkan agar peserta uji tidak merasa tertekan dan dapat mengungkapkan kompetensi berbahasanya secara normal dan maksimal.
Berbicara Berdasarkan Gambar
Untuk mengungkapkan kemampuan berbicara pembelajar dalam suatu bahasa, gambar dapat dijadikan rangsang pembicaraan yang baik. Rangsang yang berupa gambar sangat baik untuk dipergunakan anak-anak usia sekolah dasar ataupun pembelajar bahasa asing pada tahap awal. Akan  tetapi, rangsang gambarpun dapat pula dipergunakan pada pembelajar yang kemampuan berbahasanya telah (lebih) tinggi tergantung pada keadaan gambar yang dipergunakan itu sendiri. Burt dkk (Oller, 1979:47-48, 304-314) menyusun gambar-gambar menarik yang dimaksudkan untuk mengungkap kemampuan berbicara peserta didik yang potensial untuk tes yang berkadar pragmatik. Gambar yang dimaksud kemudian disebutnya sebagai the Bilingual Syntax measure.
Rangsang gambar yang dapat dipakai sebagai rangsang berbicara dapat dikelompokkan ke dalam gambar objek dan gambar cerita. Gambar objek merupakan gambar tentang objek tertentu yang berdiri sendiri seperti binatang, kendaraan, pakaian, alam dan berbagai objek yang lain yang kehadirannya tidak memerlukan bantuan objek gambar lain. Gambar cerita adalah gambar susun yang terdiri dari sejumlah panel gambar yang saling berkaitan yang secara keseluruhan membentuk sebuah cerita.
1)     Objek Gambar
Gambar objek adalah gambar yang masing-masing memiliki nama satu kata dan merupakan gambar-gambar lepas yang antara satu dengan yang lain kurang ada kaitannya. Gambar objek dapat dijadikan rangsang berbicara unuk peserta didik tingkat awal, misalnya taman kanak-kanak, atau pembelajar bahasa asing tingkat pemula yang masih dalam tahap melancarkan lafal bahasa dan memahami makna kata. Gambar-gambar tersebut contohnya sebagai berikut.

Gambar 1. Contoh Gambar Objek
 
Untuk maksud mengungkap kemampuan berbicara, misalnya, peserta didik diminta untuk menyebutkan, menemukan nama-nama gambar objek tersebut, atau bahkan merangkai kalimat berdasarkan gambar. Misalnya, kita mengajukan pertanyaan seperti “gambar apakah ini?”, “bukankah ini gambar katak?”, “kalau ke luar negeri kita naik apa agar cepat?”, dan sebagainya.
Namun, sebenarnya tugas peserta didik yang sekedar menyebutkan atau menemukan nama-nama gambar tersebut tidak alamiah, tidak wajar, peserta didik sudah tahu jawabannya, karena tidak pragmatik, tidak otentik. Tugas yang dilakukan dengan gambar tersebut tidak bermakna karena tidak berada dalam kaitannya dengan situasi konteks. Tugas seperti di atas tidak memaksa peserta didik untuk menunjukkan kemampuan berbicaranya, baik yang menyangkut ketepatan aspek linguistik maupun unsur ekstraliguistik. Oleh karena itu, penggunaan media tersebut untuk maksud merangsang berbicara peserta didik sebaiknya dibatasi.
2)     Gambar Cerita
Gambar cerita adalah rangkaian gambar yang membentuk sebuah cerita. Ia mirip komik, atau mirip buku gambar tanpa kata (wordless picture books), yaitu buku-buku gambar cerita yang alur ceritanya disajikan lewat gambar-gambar,atau gambar-gambar itu sendiri menghadirkan cerita. Kalaupun dalam gambar-gambar itu disertai kata-kata, bahasa verbal tersebut sangat terbatas. Gambar cerita atau buku gambar tanpa kata bervariasi tingkat kompleksitasnya dari yang sederhana dan mudah dikenali sequensialnya sampai yang abstrak. Dilihat dari sifat alamiah gambar cerita tersebut, ia terlihat potensial untuk dijadikan bahan rangsang berbicara.
Gambar cerita berisi suatu aktivitas, mencerminkan maksud atau gagasan tertentu, bermakna, dan menunjukkan situasi konteks tertentu. Untuk menunjukkan urutan gambar, panel-panel gambar tersebut dapat diberi nomor urut, namun dapat pula tanpa nomor agar peserta didik menemukan logika urutannya sendiri. Jadi, pada intinya gambar cerita itu sudah menunjukkan makna tertentu. Maka, tugas berbicara berdasarkan rangsang gambar cerita tidak lain adalah tugas menceritakan makna gambar itu atau menjawab pertanyaan yang terkait.

 Gambar 2. Contoh Gambar Cerita
 
Tugas-tugas pragmatik atau otentik yang diberikan kepada peserta didik untuk berbicara berdasarkan gambar-gambar yang disediakan tersebut dapat dengan cara-cara sebagai berikut; Pertama, Pemberian pertanyaan secara terbuka untuk dijawab semua peserta didik termasuk asesmen otentik. Namun pertanyaan yang diajukan harus yang menuntut mereka berpikir tingkat tinggi dan bukan sekedar pertanyaan hafalan atau menagih fakta dan konsep. Berdasarkan gambar-gambar yang disediakan, misalnya seperti dalam gambar di atas, kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pragmatis. Pertanyaan yang dimaksud hendaklah yang memungkinkan peserta didik mengungkapkan kemampuan berbahasa dan pemahaman terhadap kandungan makna gambar. Untuk gambar cerita di atas, misalnya kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: a) Mengapa pemburu memanjat pohon dengan ketakutan?; b) Bagaimana sikap kera demi melihat pemburu yang ketakutan?; c) Bagaimanakah karakter pemburu yang justru menembak kera?; d) Mengapa harimau yang semula mengejar pemburu kini datang lagi?
Sekali lagi, perlu dicatat bahwa tidak semua pertanyaan yang diajukan pasti berupa tugas pragmatik. Pertanyaan yang dimaksud adalah yang dengan mudah dijawab karena memang hanya itu jawabannya. Misalnya pertanyaan yang dimulai dengan kata “siapa”. Siapa yang mengejar pemburu?, siapa yang menolog pemburu?, yang jawabannya telah jelas, yaitu harimau dan kera. Jawaban peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan pragmatis di atas dimungkinkan sekali berbda-beda. Untuk itu perlu ditentukan kinerja jawaban yang tepat dan yang sebaiknya. Oller (197:313) mengemukakan bahwa penilaian dapat dilakukan secara terpisah, yaitu dari segi ketepatan (struktur) bahasa dan kelayakan konteks. Namun, ia menambahkan bahwa kelayakan konteks haruslah mendapat penekanan.
Kedua, Bercerita dimana pertanyaan-pertanyaan yang disajkan di atas hanya menuntut peserta didik untuk memberikan jawaban yang sesuai yang biasanya hanya terdiri dari satu kalimat. Pertanyaan-pertanyaaan seperti itu walaupun terarah, agak membatasi kreativitas imajinatif peserta didik. Tugas pragmatik atau otentik yang lebih memberi kebebasan peserta didik, disamping juga lebih mengugkap kemampuan berbahasa dan pemahaman kandungan makna secara logis, adalah meminta mereka untuk bercerita sesuai dengan gambar yang disedikan. Jika tugas itu meminta peserta didik untuk menceritakannya secara tertulis, tugas ini menjadi tugas menulis.
Untuk menilai kompetensi berbicara peserta didik, kita dapat membuat dan menggunakan rubrik yang sengaja disiapkan untuk maksud itu. Komponen penilaian harus melibatkan unsur bahasa dan kandungan makna. Namun demikian, karena tugas yang demikian lebih tepat dilakukan dalam tes proses yang sekaligus menjadi bagian dari strategi pembelajaran, guru jga perlu mencatat kesalahan-kesalahan kebahasaan yang dilakukan peserta didik untuk dibetulkan kemudian. Ingat, kita sebaiknya tidak memotong pembicaraan peserta didik agar mereka tidak terganggu dan justru mematikan keberanian. Rubrik penilaan yang dimaksudkan dicontohkan sebagai berikut.
Tabel 1: Contoh Rubrik Penilaian Berbicara Berdasarkan Rangsang Gambar
No.
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Kesesuaian dengan gambar





2
Ketepatan logika urutan cerita





3
Ketepatan makna keseluruhan cerita





4
Ketepatan kata





5
Ketepatan kalimat





6
Kelancaran





Jumlah skor


Berbicara Berdasarkan Rangsangan Suara
Tugas berbicara berdasarkan rangsang suara yang lazim dipergunakan adalah suara yang berasal dari siaran radio atau rekaman yang sengaja dibuat untuk maksud itu. Program radio yang dimaksud dapat bermacam, misalnya siaran berita, sandiwara, atau program-program lain yang layak. Jika program siaran radio yang dipilih waktunya tidak berkesesuaian dengan waktu pembelajaran di sekolah, kita dapat merekam program itu dan menghadirkannya dalam bentuk rekaman. Atau, kita sengaja menugasi peserta didik untuk mendengarkan siaran tertentu pada radio tertentu pada jam tertentu untuk kemudian menceritakannya di sekolah.
Tugas ini memang sangat terkait dengan tes kompetensi menyimak. Pengaitan antara kedua kompetensi itu justru harus ditekankan dalam pembelajaran bahasa sehingga pembelajaran yang dimaksud memenuhi tuntutan whole language. Jika kita memilih bentuk ini sebagai tugas yang harus dilakukan peserta didik, tugas yang diberikan dapat bermacam-macam salah satunya ditunjukkan di bawah.
Dengarkan siaran sandiwara radio yang telah direkam ini dengan baik. Anda boleh menuliskan hal-hal yang penting. Setelah itu, Anda minta untuk menceritakannya kembali di depan kelas. Kinerja peserta didik  kemudian dinilai dengan memergunakan rubrik penilaian. Kita dapat membuat sendiri rubrik itu dengan melibatkan komponen kebahasaan dan isi pesan yang diungkapkan. Rubrik yang dimaksud misalnya dicontohkan di bawah.
Tabel 2: Contoh Rubrik Penilaian Berbicara Berdasarkan Rangsang Suara
No
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Kesesuaian isi pembicaraan





2
Ketepatan logika urutan cerita





3
Ketepatan makna keseluruhan cerita





4
Ketepatan kata





5
Ketepatan kalimat





6
Kelancaran





Jumlah skor


Berbicara Berdasarkan Rangsang Visual dan Suara
Berbicara berdasarkan rangsang visual dan suara merupakan gabungan antara berbicara berdasarkan gambar dan suara di atas. Namun, wujud visual yang dimaksud sebenarnya lebih dari sekedar gambar. Selain wujud gambar diam, ia juga berupa gambar gerak dan gambar aktivitas. Contoh rangsang yang dimaksud yang paling banyak dikenal adalah siaran televisi, video, atau berbagai bentuk rekaman sejenis. Siaran televisi juga dapat direkam untuk kemudian dibawa di kelas, misalnya karena jika siaran yang diperlukan tidak berkesuaian waktu dengan jam pembelajaran di sekolah. Siaran televisi yang dipilih dapat berupa siaran berita, sinetron, acara flora dan fauna, dan lain-lain yang di dalamnya terkandung unsur pendidikan atau unsur penting lainya.
Tugas bentuk ini terlihat didominasi dan terkait dengan kompetensi menyimak, namun juga terdapat bentuk-bentuk lain yang memerlukan pengamatan dan pencermatan seperti gambar, gerak, tulisan, dan lain-lain yang terkait langsung dengan unsur suara dan secara keseluruhan menyampaikan suatu kesatuan informasi. Tugas menonton siaran televisi dapat langsung di kelas atau di rumah dengan menunjuk pada siaran tertentu. Tugas yang diberikan kepada peserta didik misalnya berbunyi sebagai berikut.
Cermatilah  siaran berita (juga: sinetron, dunia binatang, dan lain-lain) televisi pada pukul 18.00 WIB. Catatlah ha-hal penting. Setelah itu, Anda diminta untuk menceritakannya kembali di depan kelas.
Penilaian yang dilakukan dapat memergunakan rubrik seperti pada contoh penilaian berdasarkan rangsang suara dan atas dengan sedikit penambahan komponen.
Tabel 3: Contoh Rubrik Penilaian Berbicara Berdasarkan Rangsang Visual dan Suara
No.
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Kesesuaian isi pembicaraan





2
Ketepatan logika urutan berita





3
Ketepatan detail peristiwa





4
Ketepatan makna keseluruhan bicara





5
Ketepatan kata





6
Ketepatan kalimat





7
Kelancaran





Jumlah skor


Bercerita
Tugas ini dalam jenis asesmen otentik berupa tugas menceritakan kembali teks atau cerita (retelling texts or story). Jadi, rangsang yang dijadikan bahan untuk bercerita dapat berupa buku yang sudah dibaca, berbagai cerita (fiksi dan cerita lama), berbagai pengalaman (pengalaman bepergian, pengalaman berlomba, pengalaman berseminar), dan lain-lain.
Sebagai bagian asesmen otentik, penilaian kinerja bercerita juga praktis dilakukan lewat pembuatan rubrik. Rubrik dapat dibuat sendiri oleh guru berdasarkan bahan tugas yang diberikan, misalnya tugas menceritakan kembali isi buku cerita (fiksi) yang dibaca. Di bawah dicontohkan rubrik penilaian tugas bercerita berdasarkan buku cerita yang dibaca yang mirip dengan rubrik penilaian berdasarkan rangsnag gambar di atas.
Tabel 4: Contoh Rubrik Penilaian Tugas Menceritakan Kembali Buku Cerita
No
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Ketepatan isi cerita





2
Ketepatan penunjukan detil cerita





3
Ketepatan logika cerita





4
Ketepatan makna keseluruhan cerita





5
Ketepatan kata





6
Ketepatan kalimat





7
Kelancaran





Jumlah skor


Wawancara
Wawancara biasanya dilakukan terhadap seorang pembelajar yang kompetensi berbahasa lisannya, bahasa target yang sedang dipelajarinya, sudah cukup memadai sehingga memungkinan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bahasa itu. Kegiatan wawancara dalam rangkaian tes kompetensi  berbahasa lisan termasuk ke dalam jenis asesmen otentik dan bukan sekedar kegiatan untuk mengetahui informasi tertentu tentang jati diri peserta uji.
Kegiatan wawancara dilakukan oleh dua (beberapa) orang penguji dalam praktik yang sering terjadi di sekolah hanya seorang penguji terhadap peserta didik atau calon tertentu selama jangka waktu tertentu, misalnya minimum sepuluh menit untuk seorang calon. Wawancara dimaksudkan untuk menilai kompetensi berbahasa peserta uji lewat pertanyaan tentang berbagai masalah keseharian.
Pewawancara hendaknya mengusahakan agar calon tetap tenang, tidak merasa tertekan, tidak merasa seperti sedang diuji, sehingga bahasa yang diungkapkan dapat mencerminkan kemampuan yang sebenarnya. Biasanya, kesadaran calon bahwa ia sedang diuji akan memengaruhi mentalnya sehingga bahasanya pun akan berpengaruh pula, misalnya tidak lancar, sering terjadi kesalahan atau bahkan mungkin tidak dapat berbicara. Oleh karena itu, pada awal dimulainya wawancara, penguji sebaiknya menanyakan hal-hal yang mudah dijawab calon agar tumbuh keberanian dan rasa percaya dirinya.
Masalah yang ditanyakan dalam wawancara dapat menyangkut berbagai hal, tetapi hendaknya disesuaikan dengan tingkat pengalaman peserta uji misalnya usia, sekolah, dan kemampuan berbahasa. Alat penilaian yang dipergunakan perlu diaspkan sebelum wawancara dimulai. Pewawancara perlu menyiapkan seperangkat alat dan teknik penilaian yang disepakati bersama. Penilaian itu sendiri diberikan setelah wawancara selesai. Akan tetapi, selama berlangsung wawancara, penguji telah mencatat dalam hati nilai masing-masing komponen yang dinilai sesuai dengan kemampuan peserta didik. Ada beberapa model penilaian wawancara, misalnya model the foreign service institute atau model yang kita kembangkan sendiri. Kedua model tersebut di bawah ditunjukan.

1)     Model penilaian wawancara
Model di sini dimaksudkan sebagai model penilaian yang dikembangkan oleh guru atau pewawancara sendiri. Untuk membuat model penilaian, kita mesti memasukkan komponen bahasa dan gagasan masing-masing dengan subkomponennya sebagai aspek yang akan dinilai.
Tabel 5: Contoh Rubrik Penilaian Wawancara
No
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Keakuratan dan keaslian gagasan





2
Ketepatan argumentasi





3
Keruntutan penyampaian gagasan





4
Ketepatan kata





5
Ketepatan kalimat





6
Kelancaran





7
Pemahaman





Jumlah skor


2)     Model penilaian the foreign service institute   
Model ini dikembangkan untuk menilai wawancara dalam bahasa kedua (bahasa asing, bahasa inggris) oleh The Foreign Servise Institute. Model ini mencakup tiga komponen, yaitu tujuan, komponen dan deskripsi kefasihan, serta penyekoran yang ketiganya saling terkait. Model ini hanya mencakup komponen kebahasaan saja, dan tidak mengukur komponen gagasan. Selain itu, hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa skor tingkat kefasihan (1-6) akan berbeda untuk tiap komponen tergantung bobot masing-masing. Misalnya, skor tingkat kefasihan 4 untuk tata bahasa, kosakata, dan kelancaran masing-masing atau menjadi 24, 16, dan 8 karena bobotnya berbeda. Besar kecilnya bobot menunjukkan tingkat pentingnya komponen yang bersangkutan. Di bawah ini ditunjukkan model penilaian yang dimaksud.
3)     Tujuan wawancara
Tujuan utama dilakukannya wawancara adalah untuk menentukan tingkat kefasihan berbahasa calon. Adapun tingkat-tingkat kelancaran atau kefasihan yang dimaksud dideskripsikan sebagai berikut: a) Mampu memenuhi kebutuhan rutin untuk bepergian dan tata krama berbahasa secara minimal; b) Mampu memenuhi kebutuhan rutin sosial untuk keperluan pekerjaan secara terbatas; c) Mampu berbicara dengan ketepatan tata bahasa dan kosa kata untuk berperan serta dalam umumnya percakapan formal dan nonformal dalam masalah yang bersifat praktis, sosial, dan profesional; d) Mampu memergunakan bahasa itu dengan fasih dan tepat dalam segala tingkat sesuai dengan kebutuhan profesional; e) Mampu memergunakan bahasa itu dengan fasih sekali (asing: setaraf dengan penutur asli terpelajar).

Komponen alat penilaian dan deskripsi kefasihan
Untuk menentukan tingkat kemampuan berbicara peserta uji yang sesuai dengan ke-4 (ke-5) tingkatan di atas (dalam tabel konversi nanti akan terlihat bahwa kemungkinan  nilai tertinggi yang dapat dicapai seorang calon adalah tingkatan ke-4+), artinya, lebih dari 4 dan kurang dari 5. Dipergunakan alat penilaian yang terdiri dari komponen-komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman. Penilaian tiap komponen tersebut disusun secara berkala: 1-6, skor 1 berarti sangat kurang, sedang skor 6 berarti sangat baik. Adapun deskripsi kefasihan untuk masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, tekanan kendalanya yaitu: 1) Ucapan sering tidak dapat dipahami; 2) Sering terjadi kesalahan besar dan aksen kuat yang menyulitkan pemahaman, menghendaki untuk selalu diulang; 3) Pengaruh ucapan asing (daerah) yang memaksa orang mendengarkan dengan teliti, salah ucap yang menyebabkan kesalahpahaman; 4) Pengaruh ucapan asing (daerah) dan kesalahan ucapan tidak menyebabkan kesalahpahaman; 5) Tidak terjadi salah ucapan yang mencolok, mendekati ucapan standar; 6) Ucapan sudah standar (asing: sudah seperti penutur asli).
Kedua, dalam Tata bahasa kendala yang muncul diantaranya: 1) Penggunaan tata bahasa hampir selalu tidak tepat; 2) Adanya kesalahan dalam penggunaan pola-pola pokok secara tetap yang selalu mengganggu komunikasi; 3) Sering terjadi kesalahan dalam pola tertentu karena kurang cermat yang dapat mengganggu komunikasi; 4) Kadang-kadang terjadi kesalahan dalam penggunaan pola tertentu, tetapi tidak mengganggu komunikasi; 5) Sedikit terjadi kesalahan, tetapi bukan pada penggunaan pola; 6) Tidak lebih dari dua kesalahan selama berlangsungnya kegiatan wawancara.
Ketiga, dalam menggunakan kosa kata sering terjadi kesalahan, diantaranya: 1) Penggunaan kosakata tidak tepat dalam percakapan yang paling sederhana sekalipun; 2) Penguasaan kosakata sangat terbatas pada keperluan dasar personal (waktu, makanan, transportasi, keluarga); 3) Pemilihan kosakata sering terjadi tepat dan keterbatasan penguasaannya menghambat kelancaran komunikasi dalam masalah sosial dan profesional; 4) Pengguaan kosakata teknik tepat dalam pembicaraan tentang masalah tertentu, tetapi penggunaan kosakata umum bersifat berlebihan; 5) Penggunaan kosakata teknis lebih luas dan cermat, kosakata umum pun tepat sesuai dengan situasi sosial; 6) Penggunaan kosakata teknis dan umum luas dan tepat sekali (asing: seperti penutur asli yang terpelajar).
Keempat, kelancaran dalam berbicara memiliki beberapa kendalah, yaitu: 1) Pembicaraan selalu terhenti dan terputus-putus sehingga wawancara macet; 2) Pembicaraan sangat lambat dan tidak ajek kecuali untuk kalimat-kalimat pendek dan telah rutin; 3) Pembicaraan sering tampak ragu, kalimat tidak lengkap; 4) Pembicaraan kadang-kadang masih ragu, pengelompokkan kata kadang-kadang juga tidak tepat; 5) Pembicaraan lancar dan halus, tetapi sekali-kali masih kurang ajek; 6) Pembicaraan dalam segala hal lancar dan halus (asing: seperti penutur asli yang terpelajar).
Kelima, pemahaman dalam berbicara sering mengalami kenadala, yaitu: 1) Memahami sedikit isi percakapan yang paling sederhana; 2) Memahami dengan lambat percakapan sederhana, perlu penjelasan dan pengulangan; 3) Memahami dengan baik percakapan sederhana, dalam hal tertentu masih perlu penjelasan dan pengulangan; 4) Memahami agak baik percakapan normal, kadang-kadang pengulangan dan penjelasan; 5) Memahami segala sesuatu dalam percakapan normal, kecuali yang bersifat koloqial; 7) Memahami segala sesuatu dalam pembicaraan formal dan koloqial (asing: seperti penutur asli).

Penyekoran dan penafsiran hasil wawancara
Pemberian skor kepada masing-masing peserta uji  yang diwawancarai dilakukan dengan memergunakan tabel pembobotan, seperti yang ditunjukkan di bawah. Angka-angka dalam tabel yang dimaksud hendaknya dilihat secara horisontal. Angka 1 sampai 6 pada larik paling atas adalah skala tingkatan kemampuan atau deskripsi  kefasihan seperti yang dikemukakan di atas.

Tabel 6: Pembobotan Penilaian Wawancara
Deskripsi kefasihan
1
2
3
4
5
6
Jumlah
Tekanan
0
1
2
2
3
4

Tata bahasa
6
12
18
24
30
36

Kosakata
4
8
12
16
20
24

Kelancaran
2
4
6
8
10
12

Pemahaman
4
8
12
15
19
23

Jumlah skor


Sebagai contoh penggunaan tabel pembobotan di atas, berikut dicontohkan penyekoran hasil wawancara terhadap peserta (Tono dan Tini).
Tono : tekanan mendapat (deskripsi kefasihan): 5 (skor:3), tata bahasa: 5 (skor 30), kosakata: 5 (skor:20), kelancaran: 5 (skor:10), dan pemahaman: 6 (skor:23). Jumlah skor : 3+30+20+10+23=86.
Tini : tekanan mendapat 4 (skor : 2), tata bahasa: 4 (skor : 24), kosakata : 4 (skor : 16), kelancaran: 4 (skor : 8), dan pemahaman: 5 (skor : 19). Jumlah skor : 2+24+16+8+19=69.
Penafsiran terhadap jumlah skor di atas dilakukan dengan memergunakan (mencocokkan) tabel konversi sebaga berikut.

Tabel 7.  Konvensi Tingkat Kefasihan
Rentangan skor
Tingkat kefasihan
16 – 25
0+*)
26 – 32
1
33 – 42
1+
43 – 52
2
53 – 62
2+
63 – 72
3
73 – 82
3+
83 – 92
4
93 – 99
4+
Sumber: Oller, 1979 : 323; Vallete : 1977 : 160.
Keterangan :
*)         tanda + (ples) menunjukkan pada posisi (tingkatan) pertengahan di antara dua tingkatan, misalnya posisi antara 0 dan 1, antara 1 dan 2, dan seterusnya.
·                Skor hasil wawancara Tono adalah 86, dan berdasarkan tabel konversi di atas ia berada pada tingkat kefasihan 4 (dalam skala interval 83 – 92). Hal itu berarti bahwa Tono memunyai tingkatan kefasihan yang dideskripsikan sebagai: “mampu memergunakan bahasa itu dengan fasih dan tepat dalam segala tingkat sesuai dengan kebutuhan profesional”.
·                Skor Tini adalah 69 yang berdasarkan tabel konversi ia berada pada tingkat kefasihan 3 (skala 63 – 72). Artinya, Tini memunyai tingkat kefasihan berbicara yang dideskripsikan sebagai: “mampu berbicara dengan ketepatan tata bahasa dan kosakata untuk berperan serta dalam umumnya percakapan formal dan nonformal dalam masalah yang bersifat praktis, sosial, dan profesional”. 

Berdiskusi dan Berdebat
Tugas berbicara yang dimasukkan dalam bagian ini adalah berdiskusi, berdebat, berdialog, dan berseminar. Berdiskusi, berdebat, dan berdialog merupakan tugas-tugas berbicara yang paling tidak melibatkan dua orang pembicara. Bahkan, dalam berseminar lazimnya diikuti banyak peserta walau belum tentu semuanya mau dan dapat berbicara. Situasi pembicaraan dalam kegiatan berdiskusi, berdebat, dan berdialog dapat formal, setengah formal atau nonformal, sedang dalam berseminar mesti formal. Dalam penulisan ini berbagai tugas berbicara tersebut diandalkan berlangsung dalam situasi formal, maka bahasa yang dipergunakan juga karena harus formal.
Berbagai tugas berbicara tersebut baik dilakukan para peserta didik di sekolah dan terlebih lagi para mahasiswa untuk melatih kemampuan dan keberanian berbicara. Selain itu, tugas-tugas tersebut juga baik dan strategis sebagai latihan beradu argumentasi. Dalam aktivitas itu, peserta didik berlatih untuk mengungkapkan gagasan, menanggapi gagasan-gagasan kawannya secara kritis serta mempertahankan gagasan sendiri dengan argumentasi secara logis dan dapat dipertaggung jawabkan. Untuk maksud itu semua, sudah tentu kemampuan dan kefasihan berbicara dalam bahasa yang bersangkutan sangat menentukan.
Untuk menilai capaian pembelajaran peserta didik dalam tugas-tugas tersebut kita sebaiknya memergunakan rubrik yang sengaja disiapkan untuk maksud itu. Aspek yang dinilai harus juga mencakup komponen kebahasaan dan gagasan yang diungkapkan masing-masing dengan subkomponennya. Rubrik penilaian yang dipergunakan untuk penilaian wawancara di atas tampaknya juga dapat diterapkan pada tugas ini.
Tabel 8. Contoh Rubrik Penilaian Berdiskusi dan Berdebat
No.
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Keakuratan dan keaslian gagasan





2
Kemampuan berargumentasi





3
Keruntutan penyampaian gagasan





4
Pemahaman





5
Ketepatan kata





6
Ketepatan kalimat





7
Ketepatan stile penuturan





8
Kelancaran





Jumlah skor


Berpidato
Dilihat dari segi kebebasan peserta didik memilih bahasa untuk mengungkapkan gagasan, berpidato memunyai persamaan dengan tugas bercerita. Untuk melatih kemampuan peserta didik mengungkapkan bahasan dalam bahasa yang tepat dan cermat, tugas berpidato baik untuk diajarkan dan diujikan di sekolah. Ujian berbahasa lisan dengan tugas berpidato pun tinggi kadar keotentikannya.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran (dan tes) bahasa di sekolah, tugas berpidato dapat berwujud permainan simulasi. Misalnya, peserta didik bersimulasi sebagai kepala sekolah berpidato dalam upacara bendera, menyambut tahun baru, hari sumpah pemuda, dan sebagainya. Kompetensi berbahasa lisan yang berupa aktivitas berpidato cukup populer di sekolah dan perguruan tinggi, terbukti dengan seringnya diselenggarakannya lomba berpidato antarpeserta didik atau mahasiswa.
Ada beberapa cara untuk menilai tugas berpidato. Cara pertama adalah mengembangkan alat evaluasi sendiri dengan membuat rubrik penilaian, sedang yang kedua kita dapat mengadopsi model yang dikembangkan orang. Rubrik untuk menilai kemampuan berpidato tampaknya tidak berbeda dengan rubrik penilaian tugas bercerita dan wawancara. Rubrik penilaian yang dimaksdukan dicontohkan di bawah.
Tabel 9. Contoh Rubrik Penilaian Tugas Berpidato
No
Aspek yang Dinilai
Tingkat  Capaian Kinerja
1
2
3
4
5
1
Keakuratan dan keluasan gagasan





2
Ketepatan argumentasi





3
Keruntutan penyampaian gagasan





4
Ketepatan kata





5
Ketepatan kalimat





6
Ketepatan stile penuturan





7
Kelancaran dan kewajaran





8
Kebermaknaan penuturan





Jumlah skor


Rubrik lain yang telah dikembangkan orang misalnya yang dibuat Jakobovits dan Gordon yang mengembangkan teknik penilaian untuk tugas-tugas laporan lisan yang di sini  dikembangkan untuk tugas bercerita dan berpidato berhubung ada persamaan sifat dengan skala 0 sampai dengan 10. Aspek-aspek yang dinilai mencakup berbagai  komponen, tetapi justru tidak mencakup unsur kosa kata dan struktur kalimat (kebahasaan). Hal itu disebabkan mereka, juga Valette lebih menekankan komponen isi gagasan daripada kebahasaan. Contoh yang ditunjukkan di bawah adalah model yang telah dimodifikasi dari Jakobovits dan Gordon, beberapa aspek sengaja dihilangkan dan ditambah dengan aspek kebahasaan, termasuk penyekoran yang mulai dengan angka 1.
Tabel 10. Penilaian Tugas Berpidato Model Jakobovits dan Gordon
No
Aspek yang Dinilai
Tingkat Capaian
1
Keakuratan informasi (sangat buruk – akurat sepenuhnya)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2
Hubungan antarinformasi (sangat sedikit – berhubungan sepenuhnya)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
3
Ketepatan struktur (tidak tepat – tepat sekali)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
4
Ketepatan kosakata (tidak tepat – tepat sekali)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
5
Kelancaran (terbata-bata – lancar sekali)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
6
Kewajaran urutan wacana (tidak normal - normal)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
7
Gaya pengucapan (kaku - wajar)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jumlah skor


















Kesimpulan
Berbicara diartikan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengespresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima pesan atau informasi melaui rangkaian nada, tekanan dan penjedaan.
Berbicara merupakan sarana kita berkomunikasi satu sama lain. Fungsi bahasa antara lain, antara lain: Bahasa sebagai sarana komunikasi, Bahasa sebagai sarana kontrol sosial, Bahasa sebagai sarana memahami diri, Bahasa sebagai sarana ekspresi diri, dan Bahasa sebagai sarana memahami orang lain
Adapun tahap perkembangan bicara pada anak usia dini ialah tahap penamaan, Tahap Telegrafis, dan tahap Transformasional. Dan hubungan aspek keterampilan berbicara dengan 3 aspek keterampilan lainnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Faktor  penunjang pada kegiatan berbicara sebagai berikut. Faktor kebahasaan meliputi : ketepatan ucapan, penempatan tekanan nada, sendi atau durasi yang sesuai, pilihan kata, ketepatan penggunaan kalimat serta  tata bahasanya, ketepatan sasaran pembicaraan. Sedangkan  faktor nonkebahasaan, meliputi sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, pendangan harus diarahkan ke lawan bicara, kesediaan menghargai orang lain, gerak-gerik dan mimik yang tepat, kenyaringan suara, kelancaran, relevansi, penalaran, penguasaan topik. Tiga faktor penyebab gangguan  dalam kegiatan berbicara, yaitu: Faktor fisik, Faktor media, Faktor psikologis.
Salah satu bentuk kemampuan berbicara adalah percakapan. Dalam pembalajaran, percakapan ini sebenarnya dapat menggunakan teknik percakapan terbimbing dan bebas. Metode pembelajaran berbicara yang baik selalu memenuhi kriteria. Berbagai kriteria yang harus dipenuhi oleh metode berbicara antara lain: Relevan dengan tujuan, Memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran, Mengembangkan butir-butir keterampilan proses, Dapat mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang, Merancang siswa untuk bisa belajar, Mengembangkan penampilan siswa, Tidak menuntut peralatan yang rumit, Mengembangkan kreatifitas siswa, Mudah melaksanakan, Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.


[1]Haryadi.  Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. (Depdikbud Dirjen Dikti bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 1997), h: 95.
[2]Burhan Nurgiyantoro, Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi (Yogyakarta : Anggota Ikapi, 2013), h. 399
[3] Ibid, h. 400
[4] Ibid, h. 401

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Bagus mi... lanjutkan. Tetap semangat :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Terimakasih, Informatif dan bermanfaat sekali.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenai Saya

Foto saya

Faisal Azmi Bakhtiar, S.Pd. Pernah belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Melanjutkan di Universitas Negeri Jakarta Program Pascasarjana Pendidikan Dasar. Diberi kesempatan memahami anak usia sekolah dasar selama satu tahun di SDN Dukuhtri 02 Bumiayu Brebes. Pada intinya memahami ilmu psikologi, kemampuan melakukan penelitian dan pengamatan terhadap permasalahan, serta trampil dan mengerti kemajuan teknologi sangat berpotensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.  

My Profile

Sosial Media:
IG : @faisalazmibakhtiar
FB : Faisal Azmi Bakhtiar
WA: 085727526464

Semoga artikel kami bermanfaat


Populer Terbaru