Mengapa manusia ada? Untuk apa kita hidup? Dan apakah keberadaan manusia hanya berhenti pada kehidupan biologis dan spiritual yang selama ini kita pahami? Oleh: Faisal Azmi Bakhtiar
Ada masa dalam kehidupan ketika pertanyaan tentang dunia tidak lagi sesederhana pertanyaan tentang bagaimana kita harus menjalani hari. Seiring bertambahnya usia, pengalaman, pengetahuan, dan semakin mudahnya manusia mengakses informasi, muncul pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih besar: Mengapa manusia ada? Untuk apa kita hidup? Dan apakah keberadaan manusia hanya berhenti pada kehidupan biologis dan spiritual yang selama ini kita pahami?
Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar terlalu besar bagi seorang manusia yang hidup hanya beberapa puluh tahun. Namun justru karena hidup kita singkat, pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik.
Manusia lahir, tumbuh, belajar, bekerja, membangun keluarga, memiliki keturunan, kemudian meninggal. Dari sudut pandang biologis, siklus tersebut sebenarnya cukup untuk menjelaskan kehidupan manusia. Kita adalah bagian dari kehidupan di Bumi yang memiliki mekanisme untuk mempertahankan dirinya dan meneruskan generasi.
Dari sudut pandang spiritual, manusia memiliki penjelasan yang lebih tinggi tentang kehidupan: manusia diciptakan oleh Sang Pencipta, memiliki tanggung jawab moral, menjalani kehidupan, beribadah, kemudian mempertanggungjawabkan kehidupannya setelah kematian.
Saya tidak menolak kedua perspektif tersebut.
Namun semakin saya memikirkan keberadaan manusia, semakin muncul pertanyaan lain:
Apakah itu sudah seluruh cerita tentang manusia?
Manusia yang Sangat Kecil
Jika dilihat dari skala alam semesta, manusia memang hampir tidak berarti.
Bumi hanyalah sebuah planet kecil. Matahari hanyalah satu bintang di antara begitu banyak bintang di galaksi kita. Galaksi kita sendiri hanyalah salah satu bagian dari alam semesta yang ukurannya jauh melampaui kemampuan manusia untuk membayangkannya secara utuh.
Dalam skala tersebut, seorang manusia yang hidup selama beberapa puluh tahun tampak tidak lebih dari sebuah peristiwa kecil yang berlangsung sesaat.
Kita lahir.
Kita hidup.
Kemudian kita mati.
Secara fisik, alam semesta tampaknya tidak membutuhkan keberadaan kita.
Tetapi di sinilah sebuah paradoks muncul.
Makhluk yang secara fisik begitu kecil ternyata mampu memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Manusia dapat melihat langit dan bertanya tentang asal-usul bintang.
Manusia dapat mempelajari tubuhnya sendiri dan menemukan bagaimana kehidupan bekerja.
Manusia dapat menggali masa lalu dan mencoba memahami manusia yang hidup ribuan tahun sebelumnya.
Manusia dapat memikirkan Tuhan, kehidupan setelah kematian, kesadaran, moralitas, dan makna keberadaan.
Manusia bahkan mulai menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu dirinya memahami dan mengolah pengetahuan.
Bukankah kemampuan tersebut menarik?
Manusia Tidak Hanya Bertahan Hidup
Jika kehidupan manusia hanya dipahami dari sudut pandang biologis, maka tujuan dasarnya sebenarnya sederhana: bertahan hidup dan menghasilkan keturunan.
Namun manusia melakukan sesuatu yang jauh melampaui kebutuhan biologis tersebut.
Kita membangun peradaban.
Kita menciptakan bahasa.
Kita menulis sejarah.
Kita menciptakan matematika.
Kita membangun ilmu pengetahuan.
Kita menciptakan seni dan musik.
Kita membangun sistem pendidikan.
Kita mengembangkan teknologi.
Kita mencari obat untuk penyakit.
Kita menjelajahi dasar laut.
Kita mengirim wahana ke luar angkasa.
Dan yang paling menarik, semua pengetahuan tersebut dapat diwariskan.
Inilah salah satu kemampuan manusia yang menurut saya sangat luar biasa.
Seekor makhluk hidup mungkin mati bersama pengetahuan yang dimilikinya. Namun manusia dapat menyimpan pengetahuannya di luar tubuhnya: dalam bahasa, tulisan, gambar, buku, lembaga pendidikan, komputer, dan kini dalam jaringan digital.
Seorang manusia bisa mati.
Tetapi pemikirannya belum tentu mati.
Sebuah gagasan dapat diteruskan kepada orang lain.
Orang lain dapat memperbaikinya.
Generasi berikutnya dapat mengembangkannya.
Dan generasi setelahnya dapat menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.
Di sinilah manusia menjadi lebih dari sekadar organisme biologis.
Manusia menjadi bagian dari proses akumulasi pengetahuan yang jauh lebih panjang daripada umur individualnya.
Peradaban Tidak Dibangun oleh Satu Generasi
Saya sering membayangkan manusia sebagai sebuah estafet yang sangat panjang.
Generasi sebelumnya menyerahkan pengetahuan kepada kita.
Kita menerimanya, mempelajarinya, menggunakannya, kemudian menambahkan sesuatu.
Setelah itu kita menyerahkannya kepada generasi berikutnya.
Mereka melakukan hal yang sama.
Begitu seterusnya.
Tidak ada manusia yang mampu melihat keseluruhan perjalanan tersebut.
Tetapi setiap manusia dapat menjadi bagian dari perjalanan itu.
Kita mungkin tidak menemukan teori fisika baru.
Kita mungkin tidak menemukan obat penyakit.
Kita mungkin tidak pergi ke luar angkasa.
Kita mungkin tidak membangun teknologi yang mengubah dunia.
Namun bukan berarti kehidupan kita tidak memiliki hubungan dengan perkembangan peradaban.
Seorang guru yang menanamkan rasa ingin tahu kepada muridnya, seorang penulis yang mengajukan pertanyaan baru, seorang peneliti yang menemukan satu fakta kecil, seorang seniman yang menghasilkan karya, seorang programmer yang membuat perangkat lunak, bahkan seorang orang tua yang mengajarkan anaknya untuk berpikir kritis—semuanya dapat menjadi bagian dari rantai yang panjang tersebut.
Kita tidak selalu mengetahui ke mana pengaruh kita akan berjalan.
Semua Pengetahuan Manusia Mulai Saling Terhubung
Hal lain yang membuat zaman kita menarik adalah semakin hilangnya batas antara berbagai bidang pengetahuan.
Kedokteran berkembang bersama teknologi.
Eksplorasi luar angkasa membutuhkan fisika, matematika, biologi, komputer, psikologi, kedokteran, dan material.
Sejarah kini dapat dipelajari melalui arkeologi, genetika, pencitraan satelit, geologi, linguistik, dan kecerdasan buatan.
Eksplorasi bumi menggunakan satelit, sensor, komputer, robot, dan analisis data.
Kecerdasan buatan mempertemukan matematika, bahasa, ilmu komputer, psikologi, filsafat, bahkan pertanyaan tentang hakikat kecerdasan itu sendiri.
Sementara manusia tetap melakukan pencarian spiritual dan filosofis tentang Tuhan, kehidupan, kematian, kesadaran, dan makna.
Semua itu berlangsung pada zaman yang sama.
Kita sedang hidup pada periode ketika manusia melakukan banyak jenis eksplorasi sekaligus.
Kita mengeksplorasi tubuh.
Kita mengeksplorasi bumi.
Kita mengeksplorasi masa lalu.
Kita mengeksplorasi pikiran.
Kita mengeksplorasi teknologi.
Kita mengeksplorasi spiritualitas.
Dan kita mulai mengeksplorasi ruang angkasa.
Mungkin inilah salah satu karakter paling menarik dari peradaban manusia modern: kemampuan untuk melakukan banyak bentuk pencarian pengetahuan secara bersamaan dan menghubungkannya satu sama lain.
Saya Tidak Ingin Hidup Hanya untuk Bertahan
Pada titik tertentu dalam kehidupan, saya menyadari bahwa saya tidak ingin memahami keberadaan saya hanya sebagai siklus biologis.
Saya tidak ingin berpikir bahwa saya lahir hanya untuk bertahan hidup, bekerja, memiliki keturunan, kemudian mati.
Saya juga tidak ingin memahami kehidupan hanya sebagai sebuah perjalanan spiritual yang berhenti pada aktivitas pribadi antara manusia dan Tuhannya.
Bagi saya, kehidupan harus memiliki ruang untuk sesuatu yang lain.
Saya ingin menjadi bagian dari peradaban manusia.
Bukan berarti saya harus menjadi seseorang yang terkenal.
Bukan berarti saya harus menemukan sesuatu yang mengubah dunia.
Saya hanya ingin meninggalkan sesuatu yang berasal dari pikiran saya.
Sebuah pertanyaan.
Sebuah gagasan.
Sebuah tulisan.
Sebuah pengetahuan.
Sebuah karya.
Atau bahkan sebuah pemikiran yang kemudian dibantah oleh generasi setelah saya.
Karena jika pemikiran saya suatu hari dibantah, berarti pemikiran tersebut setidaknya pernah ikut masuk ke dalam percakapan intelektual manusia.
Dan bagi saya, itu sudah cukup berarti.
Mungkin Manusia Bukan Tujuan Akhir
Saya tidak tahu apakah manusia suatu hari benar-benar akan menguasai alam semesta.
Mungkin istilah "menguasai" bahkan terlalu sederhana untuk menggambarkan sesuatu sebesar itu.
Namun saya percaya bahwa manusia akan terus mencoba melampaui batas yang dimilikinya.
Hari ini kita masih sangat bergantung pada Bumi.
Suatu hari mungkin manusia akan hidup di luar Bumi.
Mungkin di Bulan.
Mungkin di Mars.
Mungkin di tempat lain yang hari ini belum mampu kita bayangkan.
Apakah manusia suatu hari dapat mencapai bintang lain?
Saya tidak tahu.
Apakah manusia akan bertahan selama ribuan atau jutaan tahun?
Saya juga tidak tahu.
Apakah perjalanan tersebut merupakan bagian dari tujuan yang diberikan Sang Pencipta?
Saya tidak memiliki jawaban pasti.
Namun saya tidak menganggap ketidaktahuan sebagai alasan untuk berhenti bertanya.
Justru karena kita tidak mengetahui jawabannya, kita memiliki alasan untuk terus mencari.
Mungkin Bumi Bukan Akhir dari Perjalanan
Ada sebuah kemungkinan yang terus mengganggu pikiran saya.
Bagaimana jika manusia bukan tujuan akhir dari perjalanan kehidupan?
Bagaimana jika manusia hanyalah salah satu tahap?
Materi membentuk bintang.
Bintang membentuk planet.
Planet memungkinkan munculnya kehidupan.
Kehidupan berkembang menjadi organisme yang semakin kompleks.
Pada suatu titik muncul kesadaran.
Kesadaran menghasilkan bahasa.
Bahasa menghasilkan pengetahuan.
Pengetahuan menghasilkan peradaban.
Peradaban menghasilkan teknologi.
Dan teknologi memungkinkan kesadaran untuk melihat lebih jauh dari tempat asalnya.
Jika rantai tersebut terus berlanjut, maka mungkin manusia bukan akhir dari perjalanan tersebut.
Mungkin manusia adalah sebuah jembatan.
Jembatan antara kehidupan dan pengetahuan.
Jembatan antara Bumi dan kemungkinan kehidupan di luar Bumi.
Jembatan antara alam biologis dan teknologi.
Atau mungkin, dalam perspektif spiritual, manusia adalah bagian kecil dari rencana Sang Pencipta yang belum mampu kita pahami seluruhnya.
Saya tidak mengatakan bahwa semua itu pasti benar.
Saya hanya mengatakan bahwa kita belum mengetahui cukup banyak untuk menyatakan bahwa kemungkinan tersebut mustahil.
Keabadian Mungkin Tidak Berarti Hidup Selamanya
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak mungkin hidup selamanya sebagai individu.
Tubuh saya memiliki batas.
Waktu saya terbatas.
Pengetahuan saya terbatas.
Kemampuan saya terbatas.
Tetapi mungkin manusia tidak membutuhkan kehidupan individual yang abadi untuk menjadi bagian dari sesuatu yang abadi.
Mungkin yang kita perlukan hanyalah berkontribusi pada sesuatu yang terus berjalan setelah kita tidak ada.
Seorang manusia meninggal.
Tetapi muridnya masih hidup.
Tulisan yang dibuatnya masih dibaca.
Pengetahuan yang ditemukannya masih digunakan.
Anak yang dididiknya mungkin mendidik anaknya sendiri.
Gagasan yang pernah ia pikirkan mungkin menjadi bahan bagi gagasan orang lain.
Dengan cara seperti itu, seseorang dapat menjadi bagian dari sejarah tanpa harus namanya tercatat dalam buku sejarah.
Saya Ingin Menjadi Bagian dari Perjalanan Itu
Saya tidak tahu berapa lama manusia akan bertahan.
Saya tidak tahu apakah manusia suatu hari akan mencapai bintang-bintang.
Saya tidak tahu apakah alam semesta memiliki tujuan yang dapat dipahami oleh akal manusia.
Saya bahkan tidak tahu apakah kita akan pernah menemukan jawaban terakhir tentang mengapa kita ada.
Tetapi saya tahu satu hal:
Saya tidak ingin hidup hanya sebagai penonton.
Saya ingin berpikir.
Saya ingin bertanya.
Saya ingin belajar.
Saya ingin memahami.
Saya ingin menulis.
Saya ingin berdiskusi.
Saya ingin menghasilkan sesuatu yang dapat diwariskan, sekecil apa pun.
Karena mungkin ukuran kontribusi manusia tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sesuatu yang ia ciptakan.
Mungkin yang lebih penting adalah apakah ia menambahkan satu langkah kecil bagi perjalanan manusia.
Kita semua hidup sebentar.
Namun peradaban hidup jauh lebih lama daripada kita.
Dan mungkin makna hidup bukan hanya tentang berapa lama kita hidup, melainkan apa yang kita tambahkan ke dalam perjalanan yang telah berlangsung jauh sebelum kita lahir dan mungkin terus berlangsung jauh setelah kita mati.
Maka jika suatu hari tubuh saya tidak lagi ada, saya berharap setidaknya ada sebagian kecil dari pikiran saya yang pernah menjadi bagian dari percakapan manusia.
Tidak harus dikenang.
Tidak harus terkenal.
Tidak harus dianggap benar.
Cukup pernah ada.
Cukup pernah dibaca.
Cukup pernah membuat seseorang berpikir.
Karena mungkin, pada akhirnya, itulah salah satu cara manusia yang begitu kecil di hadapan alam semesta dapat menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri: bukan dengan menaklukkan alam semesta, tetapi dengan ikut menambahkan satu fragmen kecil pengetahuan ke dalam perjalanan peradaban manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar