Sejak manusia mengenal dunia, selalu ada cerita tentang sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi diyakini ada. Roh, jin, malaikat, penunggu tempat tertentu, atau berbagai makhluk yang oleh masyarakat sering disebut sebagai makhluk halus. Oleh: Faisal Azmi Bakhtiar
Menariknya, cerita semacam itu hampir selalu memiliki pola yang serupa: sesuatu muncul kemudian menghilang, terlihat hanya sesaat, berubah bentuk, atau seolah-olah mampu melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Tentu saja, kita tidak serta-merta dapat mengatakan bahwa semua cerita tersebut benar. Sebagian mungkin merupakan hasil budaya, sugesti, mimpi, kesalahan persepsi, atau fenomena alam yang belum dipahami pada zamannya.
Namun, ada sebuah pertanyaan sederhana yang menarik untuk diajukan: Bagaimana jika keterbatasan manusia dalam melihat dunia membuat kita tidak mampu menangkap seluruh bentuk realitas yang sebenarnya ada?
Manusia dan keterbatasan indra
Manusia memperoleh informasi tentang lingkungan melalui indra. Mata menangkap cahaya pada rentang tertentu, telinga menangkap gelombang suara pada rentang tertentu, dan otak kemudian mengolah semua informasi tersebut menjadi gambaran mengenai dunia. Dengan kata lain, dunia yang kita rasakan bukanlah seluruh realitas. Ia adalah realitas yang berhasil ditangkap dan diolah oleh sistem biologis kita. Kita bahkan sudah mengetahui banyak hal yang sebenarnya ada tetapi tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata. Gelombang radio, sinar-X, medan magnet, dan berbagai fenomena lainnya membutuhkan instrumen khusus agar dapat diketahui keberadaannya. Maka, secara filosofis, tidak terlalu sulit membayangkan kemungkinan bahwa ada aspek realitas yang berada di luar kemampuan indera manusia.
Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati. “Tidak dapat kita lihat” tidak sama dengan “pasti ada.” Ketiadaan kemampuan mendeteksi sesuatu tidak boleh dijadikan bukti otomatis bahwa sesuatu tersebut benar-benar ada. Bagaimana jika ada dimensi ruang keempat? Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal tiga dimensi ruang: panjang, lebar, dan tinggi. Kita dapat bergerak ke kiri dan kanan, ke depan dan belakang, serta ke atas dan bawah. Namun secara matematis, kita dapat membayangkan ruang dengan empat dimensi atau bahkan lebih. Salah satu objek matematika yang terkenal adalah tesseract, atau hiperkubus empat dimensi. Tesseract merupakan analog empat dimensi dari kubus. Jika sebuah kubus adalah objek tiga dimensi, maka tesseract adalah analog geometrisnya dalam empat dimensi.
Masalahnya, manusia tidak dapat membayangkan bentuk 4D secara langsung seperti kita melihat kubus. Kita biasanya harus menggunakan proyeksi atau representasi tiga dimensinya. Dan justru di sinilah muncul eksperimen pemikiran yang menarik.
Bayangkan makhluk dua dimensi
Bayangkan ada makhluk yang hanya hidup di sebuah bidang datar. Ia hanya mengenal panjang dan lebar. Baginya, dunia hanya memiliki dua dimensi. Kemudian kita, sebagai makhluk tiga dimensi, memasukkan sebuah bola melewati bidang tempat makhluk itu hidup. Apa yang akan dilihat makhluk tersebut? Ia tidak akan melihat bola. Mula-mula ia mungkin melihat sebuah titik. Kemudian titik itu berubah menjadi lingkaran yang semakin besar. Lingkaran mencapai ukuran maksimum, kemudian mengecil kembali, lalu berubah menjadi titik dan akhirnya menghilang. Bagi makhluk dua dimensi, pengalaman tersebut mungkin terasa luar biasa. Padahal bagi kita sederhana saja. Yang berubah bukan bola. Yang berubah adalah bagian bola yang beririsan dengan dunia dua dimensinya.
Sekarang bayangkan kita naik satu tingkat.
Bagaimana jika ada objek atau makhluk yang memiliki struktur ruang empat dimensi dan dapat berinteraksi dengan ruang tiga dimensi kita? Manusia mungkin tidak akan melihat keseluruhan objek tersebut. Kita hanya akan melihat bagian tiga dimensinya yang beririsan dengan ruang kita. Jika objek itu bergerak pada arah dimensi keempat, penampakan tiga dimensinya dapat berubah.
Ia secara hipotetis dapat terlihat seperti: muncul → berubah bentuk → membesar atau mengecil → terpecah → menyatu kembali → menghilang.
Bukan karena objek tersebut melakukan sulap. Melainkan karena manusia hanya melihat sebagian kecil dari keseluruhan keberadaannya.
Lalu bagaimana dengan makhluk halus?
Di sinilah gagasan tersebut menjadi menarik. Berbagai masyarakat memiliki cerita tentang makhluk yang dapat muncul dan menghilang, berubah bentuk, atau seolah-olah memiliki kemampuan yang melampaui keterbatasan manusia.
Apakah itu berarti mereka adalah makhluk empat dimensi? Belum tentu. Tidak ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa jin, roh, atau makhluk halus sebenarnya merupakan penghuni dimensi ruang keempat. Namun kita dapat menggunakan gagasan tersebut sebagai sebuah hipotesis filosofis.
Mungkin saja manusia selama ribuan tahun memberikan nama dan penafsiran spiritual terhadap sesuatu yang sebenarnya belum memiliki penjelasan ilmiah. Dahulu manusia tidak memiliki konsep elektromagnetisme, gelombang radio, atau partikel subatom. Banyak fenomena alam tentu tampak misterius sebelum manusia menemukan cara untuk menjelaskannya.
Bukan berarti semua cerita mistis akan mendapatkan penjelasan ilmiah. Tetapi sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa ketidaktahuan manusia sering kali bersifat sementara.
Bagaimana jika kita membutuhkan "indra" baru?
Ada kemungkinan yang lebih menarik lagi. Seandainya dimensi ruang tambahan benar-benar ada dan dapat berinteraksi dengan dunia kita, mungkin masalahnya bukan karena manusia "tidak mempunyai indra keenam", melainkan karena sistem sensor biologis kita memang tidak dirancang untuk mendeteksi fenomena tersebut.
Manusia tidak dapat melihat gelombang radio dengan mata. Tetapi kita dapat membuat radio. Manusia tidak dapat melihat sinar-X dengan mata. Tetapi kita dapat membuat mesin untuk mendeteksinya.
Dengan demikian, jika suatu hari ditemukan fenomena yang benar-benar berasal dari dimensi ruang tambahan, mungkin manusia tidak perlu menunggu munculnya indra keenam. Kita mungkin cukup menciptakan teknologi yang mampu menerjemahkan fenomena tersebut ke dalam sesuatu yang dapat diamati oleh indra manusia. Dan jika fenomena itu benar-benar memiliki efek fisik, seharusnya ada sesuatu yang dapat diukur.
Tetapi ada satu masalah besar
Gagasan ini terdengar menarik karena mampu memberikan penjelasan geometris terhadap beberapa gambaran tentang makhluk tak kasatmata. Namun kemiripan cerita dengan prediksi matematika bukan bukti bahwa keduanya berasal dari fenomena yang sama.
Inilah batas yang harus kita jaga. Kita boleh mengatakan: «“Secara matematis, objek 4D yang berinteraksi dengan ruang 3D dapat menghasilkan fenomena yang bagi manusia tampak aneh.”»
Tetapi kita belum boleh mengatakan: «“Karena itu, makhluk halus pasti merupakan makhluk 4D.”» Kalimat kedua membutuhkan bukti. Dan bukti itu harus lebih kuat daripada cerita, pengalaman pribadi, atau kesamaan antara legenda dan teori matematika.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan "apakah mereka ada?"
Pada akhirnya, pembahasan tentang dimensi tambahan membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih luas. Seberapa lengkap sebenarnya realitas yang mampu kita persepsi? Manusia sering merasa bahwa apa yang dapat dilihat, disentuh, dan didengar adalah seluruh dunia. Padahal pengalaman manusia hanyalah sebuah jendela kecil menuju realitas. Kita adalah makhluk biologis dengan sensor yang terbatas. Otak kita kemudian membangun model dunia berdasarkan informasi yang berhasil ditangkap sensor tersebut.
Karena itu, mungkin kita perlu memiliki dua sikap sekaligus: skeptis dan terbuka. Skeptis, agar tidak mudah menganggap setiap fenomena misterius sebagai bukti keberadaan makhluk gaib. Terbuka, agar tidak menganggap sesuatu mustahil hanya karena indra dan pengetahuan kita saat ini belum mampu menjelaskannya.
Barangkali suatu hari manusia menemukan bahwa tidak ada makhluk gaib sama sekali dan berbagai cerita tersebut memiliki penjelasan psikologis maupun alamiah. Tetapi barangkali juga manusia suatu saat menemukan bahwa realitas jauh lebih luas daripada yang selama ini kita bayangkan.
Dan jika hari itu benar-benar datang, mungkin kita akan menyadari bahwa selama ribuan tahun manusia sebenarnya tidak sedang berdebat tentang “ada atau tidak ada makhluk gaib”, melainkan sedang berusaha memahami bagian realitas yang belum mampu mereka lihat.
Sebab sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Tetapi sesuatu yang tidak terlihat juga belum tentu ada. Di antara dua kemungkinan itulah ilmu pengetahuan bekerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar