Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Januari 2013
Selasa, 08 Januari 2013
“Raden Saleh Syarif Bustaman”
Raden
Saleh adalah salah seorang pelukis terkenal dari Indonesia
yang dilahirkan sekitar 1811 di Terboyo (Semarang). Ibunya bernama Mas Adjeng
Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun,
ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda
atasannya di Batavia.
Tahun 1829,
nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal
Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai
Saleh belajar ke Belanda.
Ia
dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar. Para
pelukis muda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya
itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta
kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat
ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.
Ketakmunculannya
selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis
Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya dan
pintu rumahnya terkunci dari dalam. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak.
Tiba-tiba mereka saling jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai
berlumuran darah. Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain.
"Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya
bisa menipu manusia", ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun
kemudian pergi.
Saat
masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh
tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en werktuigkunde
(ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Beberapa tahun kemudian
ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu, misalnya Dresden,
Jerman.
Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.
Di Jerman Raden Saleh di elu-elukan sebagai seorang Bangsawan dari Jawa dan
menjadi Tamu kehormatan dari Ernst I, Grand Duke dari Saxe-Coburg-Gotha. Para
Ningrat Belanda, Jerman dan Belgia, mengagumi pelukis RS, yang selalu tampil unik
dengan berpakaian adat bangsawan Jawa lengkap dengan blangkon. selama lima
tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema
pemandangan dari Andries Schelfhout.
Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda
dan keluarga kerajaan. Dari Schelfhout-lah Pangeran Raden Saleh mempelajari
ketrampilan menjadi seniman lukis lansekap.
Pada
tahun 1839, Raden Saleh melukis satu dari karya agungnya berjudul “Singa dan
Ular”, yang merupakan simbolisasi peperangan abadi antara yang baik dan jahat. Raden
Saleh juga beberapa kali berkunjung ke Paris, antara lain pada saat berlangsung
Revolusi Februari 1848.
Pada
tahun 1851 Raden Saleh pulang ke Hindia (Indonesia) bersama istrinya, wanita
Belanda yang kaya raya dan di Batavia Raden Saleh melukis potret keluarga
keraton dan pemandangan. Ia bercerai dengan istri terdahulu lalu menikahi gadis
keluarga ningrat keturunan Keraton Solo. Raden Saleh membangun sebuah
rumah di kawasan Cikini, dengan gaya neo gothic. Tahun 1875 ia berangkat lagi ke
Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke Jawa tahun 1878. Selanjutnya, ia
menetap di Bogor
sampai wafatnya pada 23 April 1880 siang hari, konon karena diracuni pembantu yang dituduh
mencuri lukisannya. Namun dokter membuktikan, ia meninggal karena trombosis
atau pembekuan darah. Tertulis pada nisan makamnya di Bondongan, Bogor,
"Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda".
Kalimat di nisan itulah yang sering melahirkan banyak tafsir yang memancing
perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh.
Ciri
romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks.
Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas)
sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis
pelukis Perancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini
diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang
membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.
Wajar
bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan
mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam
lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Meski
serupa dengan karya Nicolaas Pieneman, ia
memberi interpretasi yang berbeda. Lukisan Pieneman menekankan peristiwa
menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah
letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak
adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de
Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah
memerintahkan penahanan Diponegoro.
Berbeda
dengan versi Raden Saleh, di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak
membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro pun tak ada. Ini
menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan.
Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan
gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena Jenderal de Kock tahu musuhnya
tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap
digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras
tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.
Lukisan
tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada
tahun 1830
yang terjadi di rumah kediaman Residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden
Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana
tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jendral De
Kock pun kelihatan sangat segan dan menghormat mengantarkan Pangeran Diponegoro
menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan. Pada saat
penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian
kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari
kerabat Pangeran Diponegoro.
DAFTAR
PUSTAKA
Katherina
Achmad. 2012. Kiprah, Karya, dan Misteri Kehidupan RADEN SALEH. Pustaka
Narasi
Harsja W. Bachtiar, Peter B.R. Carey
& Onghokham. 2009. Raden Saleh Anak Belanda, Mooi Indie &
Nasionalisme.
http://tsarindanbukulangka.blogspot.com/2012/09/raden-saleh-anak-belanda-mooi-indie.html. Diakses hari senin, 3 November
2012 pukul 16.42 WIB.
http://lisadybud.blogspot.com/.
Diakses hari sabtu, 1 November 2012 pukul 19.50
WIB.
http://mengenangradensaleh.wordpress.com/mekanisme-menulis/.
Diakses sabtu, 8 November 2012 pukul
20.00 WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Saleh_Syarief_Bustaman.
Diakses hari minggu, 9 November 2012 pukul 11.00 WIB
Diusun Oleh: Dian
Minggu, 16 Desember 2012
Jumat, 09 November 2012
Budaya Tari Tradisi
1.
Kraton Sebagai Pusat Tari Tradisi, Keraton
sebagai pusat seni/budaya berperan sebagai pengembangan seni. Atau sebagai
wahana dilegalisasikannya ragam-ragam seni yang kemudian disyahkan sebagai seni
keraton (adiluhung). Seni Pertunjukan Tradsi Karaton
dibatasi sebagai seni pertunjukan yang dibentuk dan dikembangkan di
kalangan Istana, untuk keperluan yang berhubungan dg kerajaan, baik bersifat
sosial budaya maupun sosial politik. Seni pertunjuakan tradisi Keraton tidak lepas
dengan pengaruh budaya asing seperti; Cina, Hindu, Budha, Islam, Barat dan
pengaruh dari kebudayaan petani pedesan.
2.
Seni Tari Di Keraton, Bagian dari “Kebudayaan Jawi”( Cultural), Bagian
dari Lembaga Karaton (Struktural), Bagian dari Ritual di Karaton (Sosial), Bagian
dari “event” di Karaton
3.
Dimensi Cultural, Salah satu dari kebudayaan Jawa, Kebudayaan Jawi = uwoh pangolahing
budi = makarti lair& batos (melekat makna filosofi/pasemon), Cabang lain : tata
bahasa & kasusastran, gending&karawitan, wayang&pedalangan, rupa tatacara,upacara,subasita,
pusaka, japa-mantra, kepercayaan, dsb.
4.
Dimensi Struktural, Tari Putri:dibawah Pengageng Parentah Keputren (biasanya Putridalem), Sesepuh:Bupati
estri, pangkat Raden Tumenggung (RT). Misal RT Pamardi Srimpi, RT. Kusuma
Hapsari. Tari Kakung: dibawah Kadipaten Kaparak Mandrabudaya, nama bagian
Langentaya, Sesepuh : Bupati Sepuh (KRT) atau sentana Abdidalem (KRMHT, BPH)
5.
Tari Putri (Dimensi
Struktural):
a.
Semua penari putri adalah abdidalem badhaya/bedhaya (bisa berasal dari
luar Karaton, bisa berasal dari sentana non Putri dalem Sinuhun)
b.
Penari yang putridalem biasanya hanya untuk keperluan non Bedhaya
Ketawang. Misal; disuguhkan untuk dipentaskan di depan tamu Sinuhun.
c.
Latihan wajib: Rabu &Sabtu (termasuk sentana / putridalem. Selasa Kliwon
untuk adbi dalem
d.
Pentas wajib Tingalan Jumenengan dalem (Bedhaya Ketawang)
e.
Sebagian abdidalem Bedhaya diangkat Sinuhun sebagai garwa selir (garwa
ampeyan).
f.
Jenis Tari Karaton; Bedhaya, Srimpi, Pethilan
g.
Tari Bedhaya bila ditarikan di Karaton 9 penari, kalau diluar Karaton
biasanya 7 penari (kecuali atas ijin Raja)
6.
Tari Kakung (Dimensi Struktural):
a.
Semua penari kakung adalah abdidalem (bisa berasal dari luar Karaton,
bisa berasal dari sentana)
b.
Penari sentana non abdidalem dan putradalem biasanya menari
untuk event tertentu
c.
Sebagian abdidalem juga dari abdidalem prajurit “Panyutra”
d.
Latihan wajib: Senin dan Kemis di Maligi atau di sebelah Parasedyo.
(termasuk kewajiban Putradalem dan Sentana dalem)
e.
Tidak ada pentas wajib
f.
Jenis tari Kakung : wireng, pethilan.
g.
Beberapa abdidalem : RT Kusuma Kesawa, KRT S. Maridi Tandakusuma, R. Ng.
Wignya Hambegsa, R. Ng. Atmo Bratono, R. Ng. Jaga Laksita, M. Ng Harto
Sukalewo, dsb
7. Dimensi Sosial:
a.
Seni Tari menjadi bagian dari ritual (upacara adat) di Karaton.
b.
Bedhaya Ketawang pada Tingalan Jumenengan dalem Hingkang Sinuhun
c.
Chanthang Balung, prajurit Penyutra pada upacara Garebek (Mulut, Besar)
8.
Dimensi Promosional:
a.
Seni Tari menjadi seni pertunjukan dalam berbagai acara di Karaton,
maupun di luar Karaton.
b.
Dapat bersifat bisnis maupun non bisnis
c.
Misalnya; Festival Karaton, Pameran dalam rangka Sekaten, Royal Dinner, Lawatan ke luar
negeri.
d.
Bentuk dan Isi Tari
1. Bentuk, Sesuatu yang tampak secara visual
a. Gerak, Ketrampilan
bergerak, atau kecakapan dalam membawakan atau mencipta gerak. Unsur
ketrampilan mendidik watak tata tertib, sabar, Pembinaan rasa
kelompok, pendorong kerjasama, Sarana sosialisasi, pembinaan mental, Rekreasi, pelepasan emosi
1) Jenis Gerak Tari Putri, Trapsilantaya, Nikelwarti, Lumaksana Lembehan kanan, Lumaksana Ridong Sampur, Lumaksana Nayung, Lumaksana Keputren, Sindet, Ngigel, Sabetan, Srisik, dll
2) Jenis Gerak Tari Alus, Trapsilantaya, Nikel warti, Lumaksana Dadap Anoraga, Lukamsana Impuran, Lumaksana Bambangan, Lumaksana Nayung, Besut, Ngigel, Ombak Banyu, Srisik
3) Jenis Gerak Tari Gagah, Trapsilantaya, Nikelwarti, Lumaksana Kalang Tinantang, Lumaksana Bapang, Besut, Sabetan, Ombak Banyu, Srisik
4) Macam-macam
Gerak:
a) Gerak
Kepala ; Pacak gulu,
gedheg, tolehan, gebes, mbantheng gambul, banyak slulup, ngregeh lung
b) Gerak
Tangan; ukel karno, adu
manis, ulap-ulap, tawing, ukel pakis,
dsb
c) Bentuk
tangan dan Jari;
Nyempurit, Ngrayung, Kepelan, Naga rangsang, Mblarak sempal,
d) Gerak
kaki; debeg gejug,
kengser, mendhak, junjungan, tanjak, seredan, kicat, trecet, srisik
e) Gerak
badan ; ogek lambung,
Entragan,
b. Rias Busana Mengembangkan kreatifitas, Sopan santun, Memahami potensi budaya lokal,
Meningkatkan kepekaan, paduan warna, desain, garis, dsb. Simbol, makna
1) Busana:
a) Bagian kepala: Irah-irahan;
makutha, pogog, gelung, tekes, udeng, iket, blangkon, jamang, sumping, plim,
udal2an
b) Bagian leher, kalung kace, kalung ulur, srempang, tiba dada,
c) Bagian badhan dan tangan, kain, sabuk, epek, slepe, uncal, praba, sampur, rapek, klat bahu,
gelang, baju, rompi, boro, samir, keris, kolong keris
d) Bagian kaki, binggel, celana
2) Rias, Bentuk Alis, Godeg, Sogokan
c. Musik Tari, Mengenal irama, Mengenal rasa musikalitas, Meningkatkan kepekaan lingkungan, Ktrativitas. Contoh: Ladrang, Ketawang, Lancaran, Gendhing, Gangsaran
d.
Pola
lantai, Kekuatan garis yang dibuat, Karakter garis, Kerjasama, Saling Menghargai. Contohnya: Paju Pat, Ngiris tempe, Montor Mabur, Jejer wayang, Urut kacang, Jeblos, Adu kanan, Adu kiri, Adu arep
e. Setting / Property, Kreativitas, Makna, Simbol, Penguasaan ruang
f.
Lampu
g. Casting/ Pemeranan
2.
Isi, Apa yang muncul di balik bentuk Isi:
a. Nilai
b. Rasa, Regu, Gagah, Kenes, Rempeg, Agung, Pernes
c. Suasana, Konflik, Kacau, Semrawut, Tenang, Damai, Agung, Wingit
Tema garapan:
a.
Nilai
heroik / pahlawan
b.
Cinta
kasih sesama manusia
c.
Cinta
kasih dengan alam sekitar
d.
Megenal
suasana garapan
e.
Mengeal
rasa garapan
f.
Dll
Menentukan tema
a.
Memilih
tema garapan
1) Literer
a)
Ceritera
b)
Dongeng
c)
Novel
d)
Babad,
dll
2) Non literer
a)
Gerak
b)
Musik
c)
Busana,
dll
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Terbaru:
Gaji ASN Lewat Kopdes: Memperkuat Koperasi Jangan Sampai Menambah Kekhawatiran Guru dan Pensiunan
Ada satu hal yang membuat saya terus memikirkan wacana penyaluran gaji pegawai negeri sipil (PNS) dan pensiunan melalui Koperasi Desa/Kelura...
Postingan Populer
-
Lingkaran merupakan salah satu bangun datar yang memiliki satu sisi dengan simetri putar dan lipat yang tidak terhingga. Lingkaran memili...
-
Materi perkalian, pembagian, dan operasi hitung campuran adalah materi untuk siswa kelas tiga sekolah dasar semster pertama. Dalam pembela...
-
Tangga nada merupakan susunan berjenjang dari nada-nada pokok suatu sistem nada, mulai dari salah satu nada dasar sampai dengan nada o...


