ELEXTROMEDIA- Berikut ini adalah Kartini Indonesia masa kini menurut elextromedia. Perempuan-perempuan ini berjuang dan tidak pantang menyerah walaupun cobaan terus menghadang dan cibiran terus mengiang di kala itu. Perempuan ini patut dijuluki sebagai kartini masa kini. Berikut para tokohnya:
Tampilkan postingan dengan label Kajian Ilmu Pengetahuan Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Ilmu Pengetahuan Sosial. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 April 2015
Sabtu, 27 September 2014
Pilkada Langsung & Tidak Langsung
Pada hari Kamis,25/9/2014 dilaksanakan sidang paripurna untuk menetapkan RUU pilkada langsung atau tidak langsung dengan dihadiri oleh 500 dari 560 anggota DPR. Terdiri dari Partai Demokrat (130
orang), Partai Golkar (96), PDIP (90), PKS (55), PAN (43), PPP (33), PKB
(21), Gerindra (22), dan Hanura (10).
Rabu, 09 Januari 2013
Biografi wahid hasyim
A.
Wahid hasyim
KH. Abdul Wahid Hasyim adalah pahlawan nasional, salah seorang
anggota BPUPKI dan perumus Pancasila dan merupakan Menteri Agama tiga kabinet
(Kabinet Hatta, Kabinet Natsir, dan Kabinet Sukiman).Mantan Ketua Tanfidiyyah
PBNU (1948) dan Pemimpin dan pengasuh kedua Pesantren Tebuireng (1947 – 1950)
ini, merupakan reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam
Indonesia. Ia dikenal juga sebagai pendiri IAIN (sekarang UIN).
B.
Kelahiran Wahid Hasyim
KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari pasangan KH. M. Hasyim
Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) yang di lahirkan pada Jum’at
legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Ayahandanya semula memberinya nama
Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya. Namun, namanya kemudian diganti
menjadi Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Dia anak kelima dan anak
laki-laki pertama dari 10 bersaudara.
C.
Menuntut Ilmu
Sejak kecil Abdul Wahid sudah masuk Madrasah Tebuireng dan sudah
lulus pada usia yang sangat belia, 12 tahun. Selama bersekolah, ia giat
mempelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Dia juga
mempunyai hobi membaca yang sangat kuat. Dalam sehari, dia membaca minimal lima
jam. Dia juga hafal banyak syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah
buku.
Ketika berusia 13 tahun, Abdul Wahid mulai melakukan pengembaraan
mencari ilmu. Awalnya ia belajar di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo. Di sana ia
mondok mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadhan (hanya 25 hari). Setelah
itu pindah ke Pesantren Lirboyo, Kediri, sebuah pesantren yang didirikan oleh
KH. Abdul Karim, teman dan sekaligus murid ayahnya. Antara umur 13 dan 15
tahun, pemuda Wahid menjadi Santri Kelana, pindah dari satu pesantren ke
pesantren lainnya. Tahun 1929 dia kembali ke pesantren Tebuireng.
Ketika kembali ke Tebuireng, umurnya baru mencapai 15 tahun dan baru
mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin
bertambah. Ia belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika, dll. Dia juga
berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab.
Pemuda Abdul Wahid mulai belajar Bahasa Belanda ketika berlangganan
majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Tetapi dia hanya mengambil
dua bahasa saja, yaitu Bahasa Arab dan Belanda. Setelah itu dia mulai belajar
Bahasa Inggris.
Pada tahun 1932, ketika umurnya baru 18 tahun, Abdul Wahid pergi ke
tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Selain menjalankan ibadah
haji, mereka berdua juga memperdalam ilmu pengetahuan seperti nahwu, shorof,
fiqh, tafsir, dan hadis. Abdul Wahid menetap di tanah suci selama 2 tahun.
D.
Memimpin Pondok Pesantren
Tebuireng
Sepulang dari tanah suci, KH. Abdul Wahid (biasa dipanggil KH. Wahid
Hasyim) bukan hanya membantu ayahnya mengajar di pesantren, tapi juga terjun ke
tengah-tengah masyarakat. Ketika usianya menginjak 20-an tahun, Kiai Wahid
mulai membantu ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari
para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, mewakili sang ayah dalam
berbagai pertemuan dengan para tokoh.
Bahkan ketika ayahnya sakit, ia menggantikan membaca kitab Shahih
Bukhari, yakni pengajian tahunan yang diikuti oleh para ulama dari berbagai
penjuru tanah Jawa dan Madura.
Dengan bekal keilmuan yang cukup, pengalaman yang luas serta wawasan
global yang dimilikinya, Kiai Wahid mulai melakukan terobosan-terobosan besar
di Tebuireng. Awalnya dia mengusulkan untuk merubah sistem klasikal dengan
sistem tutorial, serta memasukkan materi pelajaran umum ke pesantren.
Usul ini ditolak oleh ayahnya, karena khawatir akan menimbulkan
masalah antar sesama pimpinan pesantren. Namun pada tahun 1935, usulan Kiai
Wahid tentang pendirian Madrasah Nidzamiyah, dimana 70% kurikulumnya berisi
materi pelajaran umum, diterima oleh sang ayah.
Madrasah Nidzamiyah bertempat di serambi masjid Tebuireng. Siswa
pertamanya berjumlah 29 orang, termasuk adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim.
Dalam bidang bahasa, selain materi pelajaran Bahasa Arab, di Madrasah
Nidzamiyah juga diberi pelajaran Bahasa Inggris dan Belanda.
Untuk melengkapi khazanah keilmuan santri, pada tahun 1936, Kiai
Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam yang kemudian diikuti dengan pendirian
taman bacaan (perpustakaan) yang menyediakan lebih dari seribu judul buku.
Perpustakaan Tebuireng juga berlangganan majalah seperti Panji
Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar
Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya. Langkah ini
merupakan terobosan besar yang—saat itu—belum pernah dilakukan pesantren
manapun di Indonesia.
Pada tahun 1947, ketika sang ayah meningal dunia, Kiai Wahid
terpilih secara aklamasi sebagai pengasuh Tebuireng. Pilihan ini berdasarkan
kesepakatan musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten Jombang.
Terpilihnya Kiai Wahid sebenarnya sekadar ”formalisasi”, karena kenyataannya
beliau sudah lama ikut membantu sang ayah mengelola Tebuireng.
Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan
pindah ke Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS
Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman Matraman
Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman.
E.
Pernikahan KH. Abdul Wahid
Hasyim
Pada hari Jumat, 10 Syawal 1356 H./1936 M., Kiai Wahid menikah
dengan Munawaroh (lebih dikenal dengan nama Sholichah), putri KH. Bisyri
Sansuri (Denanyar Jombang). Ada peristiwa menarik dalam prosesi pernikahan ini.
Mempelai lelaki hanya berangkat seorang diri ke Denanyar. Kiai Wahid datang
hanya memakai baju lengan pendek dan bersarung. Tidak ada yang mengiringinya.
Bukan tidak ada yang mau mengantar, akan tetapi Kiai Wahid sendiri yang
meninggalkan para pengiringnya di belakang.
Dari pernikahan itu, pasangan Wahid-Sholichah dikaruniai enam orang
putra-putri, yaitu Abdurrahman, Aisyah, Salahuddin, Umar, Lily Khodijah, dan
Muhammad Hasyim.
F.
Masuk NU
Di tengah-tengah kesibukannya mengelola Tebuireng, Kiai Wahid aktif
menjadi pengurus NU (1938). Karier di NU dimulai dari bawah. Mula-mula menjadi
Sekertaris NU Ranting Cukir, kemudian tahun 1938 terpilih sebagai Ketua Cabang
NU Kabupaten Jombang.
Lalu tahun 1940 masuk kepengurusan PBNU bagian ma’arif (pendidikan).
Di tubuh Ma’arif NU, Kiai Wahid mengembangkan dan melakukan reorganisasi
terhadap madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia. Kiai Wahid juga giat
mengembangkan tradisi tulis-menulis di kalangan NU, dengan menerbitkan Majalah
Suluh Nahdlatul Ulama. Beliau juga aktif menulis di Suara NU dan Berita NU.
Tahun 1946 Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Tanfidiyyah PBNU menggantikan Kiai
Achmad Shiddiq yang meninggal dunia.
G.
Mendirikan Masyumi
Pada bulan November 1947, Wahid Hasyim bersama M. Natsir menjadi
pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di
Jogjakarta. Dalam kongres itu diputuskan pendirian Majelis Syuro Muslimin
Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai politik Islam di Indonesia.
Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai Hasyim Asy’ari. Namun Kiai Hasyim
melimpahkan semua tugasnya kepada Wahid Hasyim.
Dia dalam Masyumi tergabung tokoh-tokoh Islam nasional, seperti KH.
Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH.
Zainul Arifin, Mohammad Roem, dr. Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto
Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto, Mohammad Natsir, dan lain-lain.
Sejak awal tahun 1950-an, NU keluar dari Masyumi dan mendirikan
partai sendiri. Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Partai NU. Keputusan ini
diambil dalam Kongres ke-19 NU di Palembang (26-April-1 Mei 1952). Secara
pribadi, Kiai Wahid tidak setuju NU keluar dari Masyumi. Akan tetapi karena
sudah menjadi keputusan bersama, maka Kiai Wahid menghormatinya. Hubungan Kiai
Wahid dengan tokoh-tokoh Masyumi tetap terjalin baik.
H.
Pahlawan Nasional
Pada tahun 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A'la
Indonesia (MIAI), sebuah federasi partai dan ormas Islam di Indonesia. Setelah
masuknya NU, dilakukan reorganisasi dan saat itulah Kiai Wahid terpilih menjadi
ketua MIAI, dalam Kongres tanggal 14-15 September 1940 di Surabaya.
Di bawah kepemimpinan Kiai Wahid, MIAI melakukan tuntutan kepada
pemerintah Kolonial Belanda untuk mencabut status Guru Ordonantie tahun 1925
yang sangat membatasi aktivitas guru-guru agama. Bersama GAPI (Gabungan Partai
Politik Indonesia) dan PVPN (Asosiasi Pegawai Pemerintah), MIAI juga membentuk
Kongres Rakyat Indonesia sebagai komite Nsional yang menuntut Indonesia
berparlemen.
Menjelang pecahnya Perang Dunia ke-II, pemerintah Belanda mewajibkan
donor darah serta berencana membentuk milisi sipil Indonesia sebagai persiapan
menghadapi Perang Dunia. Sebagai ketua MIAI, Wahid Hasyim menolak keputusan
itu.
Ketika pemerintah Jepang membentuk Chuuo Sangi In, semacam DPR ala
Jepang, Kiai Wahid dipercaya menjadi anggotanya bersama tokoh-tokoh pergerakan
nasional lainnya, seperti Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sartono, M.
Yamin, Ki Hajat Dewantara, Iskandar Dinata, Dr. Soepomo, dan lain-lain. Melalui
jabatan ini, Kiai Wahid berhasil meyakinkan Jepang untuk membentuk sebuah Badan
Jawatan Agama guna menghimpun para ulama.
Pada tahun 1942, Pemerintah Jepang menangkap Hadratusy Sayeikh Kiai
Hasyim Asy'ari dan menahannya di Surabaya. Wahid Hasyim berupaya membebaskannya
dengan melakukan lobi-lobi politik. Hasilnya, pada bulan Agustus 1944, Kiai
Hasyim Asy'ari dibebaskan. Sebagai kompensasinya, Pemerintah Jepang menawarinya
menjadi ketua Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Kiai Hasyim menerima
tawaran itu, tetapi karena alasan usia dan tidak ingin meninggalkan Tebuireng,
maka tugasnya dilimpahkan kepada Kiai Wahid.
Bersama para pemimpin pergerakan nasional (seperti Soekarno dan
Hatta), Wahid Hasyim memanfaatkan jabatannya untuk persiapan kemerdekaan RI.
Dia membentuk Kementerian Agama, lalu membujuk Jepang untuk memberikan latihan
militer khusus kepada para santri, serta mendirikan barisan pertahanan rakyat
secara mandiri. Inilah cikal-bakal terbentuknya laskar Hizbullah dan Sabilillah
yang, bersama PETA, menjadi embrio lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tanggal 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu
Zyunbi Tyooisakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI), dan Wahid Hasyim menjadi salah satu anggotanya. Dia merupakan tokoh
termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Jakarta, sebuah
piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara. Dia berhasil
menjembatani perdebatan sengit antara kubu nasionalis yang menginginkan bentuk
Negara Kesatuan, dan kubu Islam yang menginginkan bentuk negara berdasarkan
syariat Islam. Saat itu ia juga menjadi penasihat Panglima Besar Jenderal
Soedirman.
Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September
1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet
Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Wahid Hasyim menjadi salah seorang
anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam
Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri
Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet
Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.
Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI, Kiai Wahid mengeluarkan
tiga keputusan yang sangat mepengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa
kini, yaitu :
1.
Mengeluarkan Peraturan
Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan
pengajaran agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta.
2.
Mendirikan Sekolah Guru dan
Hakim Agama di Malang, Banda-Aceh, Bandung, Bukittinggi, dan Yogyakarta.
3.
Mendirikan Pendidikan Guru
Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang, Banda-Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin,
Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan, dan Salatiga.
Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (tahun
1944), yang pengasuhannya ditangani oleh KH. Kahar Muzakkir. Lalu pada tahun
1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini
menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI).
Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid
Istiqlal sebagai masjid negara.
I.
Musibah di Cimindi
Hari itu, Sabtu 18 April 1953, Kiai Wahid bermaksud pergi ke
Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Kiai Wahid ditemani tiga orang, yakni
sopirnya dari harian Pemandangan, rekannya Argo Sutjipto, dan putera sulungnya
Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur). Kiai Wahid duduk di jok belakang bersama Argo
Sutjipto. Daerah di sekitar Cimahi waktu itu diguyur hujan lebat sehingga jalan
menjadi licin. Lalu lintas cukup ramai.
Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, sebuah daerah antara
Cimahi-Bandung, mobil yang ditumpangi Kiai Wahid selip dan sopirnya tidak bisa
menguasai kendaraan. Di belakangnya banyak iringan-iringan mobil. Sedangkan
dari arah depan, sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu
melihat ada mobil zig-zag. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang,
bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi
benturan, Kiai Wahid dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah
berhenti itu. Keduanya luka parah. Kiai Wahid terluka bagian kening, mata,
pipi, dan bagian lehernya. Sedangkan sang sopir dan Gus Dur tidak cedera
sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan
seperti semula.
Kiai Hasyim dan Argo Sutjipto kemudian dibawa ke Rumah Sakit
Boromeus Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, keduanya tidak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Ahad, 19 April 1953 pukul 10.30, KH. Abdul Wahid Hasyim
dipanggil ke hadirat Allah Swt. dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian,
tepatnya pukul 18.00 Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik. Inna liLlahi
wa Inna ilayhi Raji’un.
Selasa, 08 Januari 2013
KEBUDAYAAN DAERAH BREBES
1. Dilihat
dari aspek bahasa
Menurut
hasil wawancara, bahasa yang dominan digunakan di daerah Brebes yaitu bahasa
Jawa Banyumasan(Ngapak) dengan
dialek tegal-brebes.Selain itu juga terdapat bahasa sunda yang digunakan oleh
masyarakat daerah brebes bagian barat seperti di daerah Salem. Ciri khas dari
bahasa Jawa
yang digunakan terdapat pada pengucapan huruf “a” yang tetap dibaca “a” bukan
“o”, misalnya pada kata sega, tetap
dibaca sega bukan sego. Ciri khas lain juga terdapat pada
penekanan huruf K di akhir kata yang diucapkan dengan jelas.Selain dari segi
pengucapan, juga terdapat ciri
khas dari
segi istilah untuk suatu hal
yang
berbeda dengan di daerah lainnya misalnya istilah untuk katalapar di daerah Brebes menggunaan istilah kencot.Selain
menggunakan bahasa Jawa, juga terdapat pemakaian bahasa Indonesia untuk orang
yang dihormati seperti pada atasandan
saat dalam
keadaan yang formal.
Di
daerah Brebes, seseorang jika bertemu dengan orang lain yang sudah dikenal maka
ia akan menyapanya. Untuk menyapa teman sebaya biasanya tidak menyebutkan nama
atau salam, tetapi menggunakan kata-kata gaul seperti “woy” atau “hey”.
Sedangkan untuk menyapa orang yang lebih tua dan yang lebih dihormati biasanya
menyapa menggunakan sebutannya seperti mas, mbak, pak, dll.
Bahasa
Jawa ngapak dipakai untuk berbicara dengan siapa saja seperti kepada teman
sebaya, kakak, ataupun orang tua, sehingga tidak ada pemakaian bahasa Jawa yang khusus seperti Bahasa Jawa
Krama kepada orang-orang tertentu.
2. Dilihat
dari aspek nilai-nilai dalam keluarga
Di
daerah Brebes
keluarga besar meliputi keturunan kakek-nenek
(buyut) sedangkan keluarga kecil hanya mencakup bapak, ibu, dan anak saja.Dalam
kekeluargaan anak selalu mematuhi perintah orang tua baik itu bapak, ibu maupun
kakek atau nenek.Kebiasaan orang Brebes
dalam suatu keluarga adalah orang yang lebih tua berhak memberi perintah kepada
orang yang lebih muda.
Di
daerah Brebes
Kemandirian seseorang anak dalam suatu keluarga ditanamkan sejak kecil yang
dimulai dengan dimilikinya kamar sendiri sejakkelas 5 sekolah dasar. Dampak
dari pada kemandirian tersebut anak pada usia 20 tahun sudah berpikiran untuk
mandiri dan memiliki penghasilan sendiri. Sebagian besar anak di daerah Brebes usia 18 tahun sudah mampu bekerja untuk
membiayai hidupnya sendiri. Namun ada juga yang usia 16 tahun sudah mampu
bekerja.
Orang
tua sangat memotivasi dan memfasilitasi anaknya dalam hal pendidikan.Sebagian
besar orang tua membebaskan anaknya dalam hal pendidikan.Ada sebagian kecil
orang tua yang menentukan pendidikan anaknya berdasarkan nasehat orang yang
sukses di daerah tersebut namun ada pula yang secara dominan orang tua
menentukan pendidikannya.Dalam hal perjodohan yang menentukan bukan lagi orang tua namun
sebagian besar orang tua memperbolehkan
anaknya berpacaran maupun menikah ketika anaknya sudah mandiri dan mampu
menghasilkan uang untuk hidupnya sendiri.
3. Dilihat
dari aspek tata karma dan kebiasaan sehari-hari
Dilihat
dari kebiasaan yang ada di masyarakat Brebes, masyarakat di Brebes selalu
berusaha untuk menepati janji yang dibuat, selain itu juga berusaha untuk
selalu datang tepat waktu dalam berbagai hal.
Orang
Brebes biasanya makan 3-4 kali sehari, makanan pokok mereka adalah nasi dan
menggunakan sendok dan garpu sebagai alat untuk makan.Umumnya mereka jarang
makan bersama dalam satu meja makan. Biasanya saat mereka makan bersama mereka
akan makan sambil bercakap-cakap dan bercerita satu sama lainnya.
Mengenai
tata karma dalam hubungan masyarakat, seorang yang lebih muda bersikap sopan
terhadap yang lebih tua. Kepada teman sebaya mereka bersikap biasa, tetapi
tetap saling menghormati satu dengan lain. Budaya untuk saling menghormati
telah tertanam di dalam diri masyarakat.
Orang
di daerah Brebes, jika bertemu dengan orang yang belum dikenal biasanya mereka
akan berbasa-basi dahulu sebelum berkenalan dengan orang tersebut. Hal ini
biasanya dilakukan untuk menjalin keakraban dengan orang-orang yang baru.
Di
daerah Brebes, terdapat komunitas yang kurang baik seperti orang-orang yang
bergerombol yang membentuk geng dan nongkrong di tempat-tempat umum.Tetapi juga
terdapat komunitas yang baik seperti perkumpulan di majelis-majelis keagamaan.
4. Dilihat
dari aspek kebebasan pribadi
Kebebasan
pribadi yang dimaksud merupakan kebebasan melakukan segala sesuatu yang
disenanginya tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Secara umum orang brebes
sama dengan kepribadian orang-orang pada umumnya yaitu memiliki egoisme tinggi
maupun rendah. Namun dari hasil wawancara anak sering mengorebankan kepentingan
diri sendiri untuk kepentingan orang lain. Namun ketika ada yang lebih penting
seseorang anak akan menolak untuk meluangkan waktunya.
Kebebasan
privasi dalam diri seseorang di daerah brebes pintu kamar tidur sering terbuka
namun akan tertutup ketika melakukan kegiatan yang dirasa pribadi. Apabila
seseorang masuk kamar tanpa izin pemilik kamar akan merasa tidak nyaman.
Di daerah Brebes sebagian besar orang menentukan
masa depannya diarahkan oleh orang tua maupun orang yang memiliki strata tinggi
di daerah tersebut.Namun ada sebagian kecil orang yang menentukan masa depannya
sendiri tanpa pengarahan orang tua.
Minggu, 16 Desember 2012
BIOGRAFI WAHID HASYIM
Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Hasyim Asy'arie, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang. Pada tahun 1939, NU menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam di zaman pendudukan Belanda. Saat pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1943 beliau ditunjuk menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi beliau merintis pembentukan Barisan Hizbullah
yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan. Selain
terlibat dalam gerakan politik, tahun 1944 beliau mendirikan Sekolah
Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir. Menjelang kemerdekaan tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.
Wahid Hasyim dengan segudang pemikiran tentang agama, negara,
pendidikan, politik, kemasyarakatan, NU, dan pesantren, telah menjadi
lapisan sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang tidak dapat
tergantikan oleh siapapun. Wahid Hasjim adalah salah satu putra bangsa yang turut mengukir
sejarah negeri ini pada masa awal kemerdekaan Republik
Indonesia.Terlahir Jumat Legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 Hijriyah atau 1 Juni
1914, Wahid mengawali kiprah kemasyarakatannya pada usia relatif muda.
Setelah menimba ilmu agama ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur
dan Mekah, pada usia 21 tahun Wahid membuat “gebrakan” baru dalam dunia
pendidikan pada zamannya. Dengan semangat memajukan pesantren, Wahid
memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran
agama dengan pelajaran ilmu umum.Sistem klasikal diubah menjadi sistem
tutorial. Selain pelajaran Bahasa Arab, murid juga diajari Bahasa
Inggris dan Belanda. Itulah madrasah nidzamiyah. Meskipun ayahandanya, hadratush syaikh Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama, butuh waktu beberapa tahun bagi Wahid Hasjim untuk menimbang berbagai hal sebelum akhirnya memutuskan aktif di NU.
Pada usia 25 tahun Wahid bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia
(MIAI), federasi organisasi massa dan partai Islam saat itu. Setahun
kemudian Wahid menjadi ketua MIAI. Karier politiknya terus menanjak dengan cepat. Ketua PBNU, anggota
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), hingga Menteri Agama pada tiga kabinet (Hatta, Natsir, dan Sukiman). Banyak kontribusi penting yang diberikan Wahid bagi agama dan bangsa. Rumusan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Pancasila
sebagai pengganti dari "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi
Pemeluknya" tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasjim. Wahid
dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif. Wahid Hasjim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi tanggal 19 April 1953.
Ketika kecil Abdul Wahid telah masuk Madrasah Tebuireng dan sudah lulus pada usia yang sangat belia, 12 tahun. Selama sekolah, ia giat mempelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Selain itu juga dia mempunyai hobi membaca yang sangat kuat. Dalam sehari, dia membaca minimal lima jam. Dia juga hafal banyak syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah buku.Ketika berusia 13 tahun, Abdul Wahid mulai melakukan pengembaraan mencari ilmu. Awalnya ia belajar di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo. Di sana ia mondok mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadhan (hanya 25 hari). Setelah itu pindah ke Pesantren Lirboyo, Kediri, sebuah pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Karim, teman dan sekaligus murid ayahnya. Antara umur 13 dan 15 tahun, pemuda Wahid menjadi Santri Kelana, pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tahun 1929 dia kembali ke pesantren Tebuireng.Ketika kembali ke Tebuireng, umurnya baru mencapai 15 tahun dan baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Ia belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika, dll. Dia juga berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab.Pemuda Abdul Wahid mulai belajar Bahasa Belanda ketika berlangganan majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Tetapi dia hanya mengambil dua bahasa saja, yaitu Bahasa Arab dan Belanda. Setelah itu dia mulai belajar Bahasa Inggris.Pada tahun 1932, ketika umurnya baru 18 tahun, Abdul Wahid pergi ke tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Selain menjalankan ibadah haji, mereka berdua juga memperdalam ilmu pengetahuan seperti nahwu, shorof, fiqh, tafsir, dan hadis. Abdul Wahid menetap di tanah suci selama 2 tahun.
Pada tahun 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A'la
Indonesia (MIAI), sebuah federasi partai dan ormas Islam di Indonesia. Setelah
masuknya NU, dilakukan reorganisasi dan saat itulah Kiai Wahid terpilih menjadi
ketua MIAI, dalam Kongres tanggal 14-15 September 1940 di Surabaya.Menjelang
pecahnya Perang Dunia ke-II, pemerintah Belanda mewajibkan donor darah serta
berencana membentuk milisi sipil Indonesia sebagai persiapan menghadapi Perang
Dunia. Sebagai ketua MIAI, Wahid Hasyim menolak keputusan itu.Ketika pemerintah
Jepang membentuk Chuuo Sangi In, semacam DPR ala Jepang, Kiai Wahid dipercaya
menjadi anggotanya bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya, seperti Ir.
Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sartono, M. Yamin, Ki Hajat Dewantara, Iskandar
Dinata, Dr. Soepomo, dan lain-lain. Melalui jabatan ini, Kiai Wahid berhasil
meyakinkan Jepang untuk membentuk sebuah Badan Jawatan Agama guna menghimpun
para ulama.Pada tahun 1942, Pemerintah Jepang menangkap Hadratusy Sayeikh Kiai
Hasyim Asy'ari dan menahannya di Surabaya. Wahid Hasyim berupaya membebaskannya
dengan melakukan lobi-lobi politik. Hasilnya, pada bulan Agustus 1944, Kiai
Hasyim Asy'ari dibebaskan. Sebagai kompensasinya, Pemerintah Jepang menawarinya
menjadi ketua Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Kiai Hasyim menerima
tawaran itu, tetapi karena alasan usia dan tidak ingin meninggalkan Tebuireng,
maka tugasnya dilimpahkan kepada Kiai Wahid.Bersama para pemimpin pergerakan
nasional (seperti Soekarno dan Hatta), Wahid Hasyim memanfaatkan jabatannya
untuk persiapan kemerdekaan RI. Dia membentuk Kementerian Agama, lalu membujuk
Jepang untuk memberikan latihan militer khusus kepada para santri, serta
mendirikan barisan pertahanan rakyat secara mandiri. Inilah cikal-bakal
terbentuknya laskar Hizbullah dan Sabilillah yang, bersama PETA, menjadi embrio
lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).Pada tanggal 29 April 1945,
pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyooisakai atau Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Wahid Hasyim menjadi salah
satu anggotanya. Dia merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang
menandatangani Piagam Jakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan
konstitusi negara. Dia berhasil menjembatani perdebatan sengit antara kubu
nasionalis yang menginginkan bentuk Negara Kesatuan, dan kubu Islam yang
menginginkan bentuk negara berdasarkan syariat Islam. Saat itu ia juga menjadi
penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman.Di dalam kabinet pertama yang
dibentuk Presiden Sukarno (September 1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri
Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk,
Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat
menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam
Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri
Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet
Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI,
Kiai Wahid mengeluarkan tiga keputusan yang sangat mepengaruhi sistem
pendidikan Indonesia di masa kini, yaitu :
1.
Mengeluarkan Peraturan
Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan
pengajaran agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta.
2.
Mendirikan Sekolah Guru dan
Hakim Agama di Malang, Banda-Aceh, Bandung, Bukittinggi, dan Yogyakarta.
3.
Mendirikan Pendidikan Guru
Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang, Banda-Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin,
Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan, dan Salatiga.
Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (tahun
1944), yang pengasuhannya ditangani oleh KH. Kahar Muzakkir. Lalu pada tahun
1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini
menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI).
Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid
Istiqlal sebagai masjid negara.
Nama : Faisal Azmi Bakhtiar
Nim : A510100256
DAFTAR PUSTAKA
Rifai, Mohammad. 2009. Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953. Jogjakarta
: Garasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Wahid_Hasjim
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Terbaru:
Manusia Tidak Merusak Bumi, Kita Hanya Mengacaukan Rumah Sendiri
Oleh: Faisal Azmi Bakhtiar Kalimat kalau "manusia sedang merusak Bumi" rasanya sudah terlalu sering kita dengar. Kedengarannya be...
Postingan Populer
-
Lingkaran merupakan salah satu bangun datar yang memiliki satu sisi dengan simetri putar dan lipat yang tidak terhingga. Lingkaran memili...
-
Materi perkalian, pembagian, dan operasi hitung campuran adalah materi untuk siswa kelas tiga sekolah dasar semster pertama. Dalam pembela...
-
Tangga nada merupakan susunan berjenjang dari nada-nada pokok suatu sistem nada, mulai dari salah satu nada dasar sampai dengan nada o...



